MADIUN, KOMPAS.com - Walau hujan sudah sering turun sejak akhir Oktober lalu, sebagian besar petani di daerah Kabupaten Madiun, Jatim belum bisa mengolah tanah mereka karena air irigasi belum mencukupi. Sementara kalau menggunakan mesin pompa biayanya terlalu mahal.
Menurut pengamatan Kompas, Senin (7/11/2011), sebagian besar areal persawahan seperti di wilayah Kecamatan Mejayan, Wonoasri, Balerejo, Nglames yang masih dibiarkan bera (tak tertanami) dan tanahnya belum diolah.
"Sekarang ini petani umumnya baru membuat pembenihan sambil menunggu ketersediaaan air yang cukup untuk membajak sawah. Kalau hanya air hujan saja tidak cukup. Walau setiap hari hujan, tapi baru sebatas membasahi tanah belum bisa menggenang. Padahal untuk membajak itu air harus menggenang," kata Karjan, petani Desa Klitik, Kecamatan Wonoasri.
Menurut Wakidi, petani lain, air irigasi yang dialirkan dari dam Sumbersuko belum mencukupi. "Sementara kalau menggunakan pompa air biayanya sangat tinggi. Lebih irit menggunakan air yang dikelola Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA). Apalagi pembayaran retribusi ke HIPPA itu dilakukan pada saat panen. Jadi meringankan petani," tambahnya.
Kalangan petani mengaku tidak takut terlambat memulai musim tanam. Kami lebih mengutamakan tanam serentak karena kalau mendului atau tertinggal itu risiko diserang hama.
Di daerah ini musim tanam harus serentak dan budidaya sejenis dalam satu hamparan. Berbeda dengan di daerah Kediri ke timur yang sudah menggunakan sistem tanam beragam dan blok-blok, tambah Karjan yang pernah mempelajari pola peratani di daerah Kediri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang