Polisi Tak Kuasai Medan di Papua

Kompas.com - 07/11/2011, 16:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian menyatakan cukup kesulitan meringkus pelaku penembak misterius yang belakangan sering terjadi di Papua, tepatnya di areal PT Freeport. Hal ini, kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, karena medan di Papua sulit dijangkau oleh anggota polisi.

"Untuk diketahui, medan di sana sangat sulit. Kami sendiri, petugas keamanan itu, tidak hafal medan di situ," ujar Saud di Markas Besar Polri, Jakarta, Senin (7/11/2011).

Sebaliknya, pelaku penembakan dari kelompok bersenjata justru mengenal medan di Papua lebih baik. Saud mengatakan, pelaku selalu menembak dari posisi tertentu sehingga polisi tidak bisa dengan mudah menangkap mereka.

"Para pelaku sangat menguasai medannya. Kemudian, mereka ini menembak dari tempat-tempat tertentu yang kalau kami kejar pasti menghilang," katanya.

Selain itu, kata Saud, kondisi cuaca yang dingin dan transportasi yang kurang memadai mengakibatkan ruang gerak anggota kepolisian di Papua sulit melakukan pengejaran. Menurut dia, jika pun ada yang tertangkap, para pelaku mengaku tidak saling mengenal sehingga kepolisian kesulitan untuk mengembangkan pencarian ke pelaku lainnya.

"Kalau kami dengan kendaraan sudah sedemikian sulit, mereka (pelaku) dengan berjalan kaki dan berlari itu sudah sedemikian kuat. Fisik mereka kuat," tuturnya.

Akibat lemahnya penguasaan medan oleh polisi di Papua, Saud menyatakan, pihaknya akan melakukan evaluasi kembali pasukan yang diturunkan. Ia menolak dikatakan petugas polisi tak siap menghadapi situasi dan kondisi Papua. Kondisi cuaca dan geografis, kata Saud, menjadi penghambat untuk menjaring pelaku penembak misterius.

"Kami evaluasi setiap saat untuk meminimalisasi korban dan berupaya menangkap mereka dan ciptakan keamanan di sana. Kami sudah siapkan, cuma kadang-kadang saat ini kondisinya seperti itu karena medannya sangat sulit," ujarnya.

Sejak kasus penembakan tiga warga pendatang,  Aloysius Margana, Yunus, dan Eto, di Freeport Kilometer 38, Oktober lalu, kepolisian belum juga menemukan pelaku penembakan yang diduga dilakukan 10 orang. Saat ini pun kasus penembakan masih berlanjut dengan korban Briptu Marselinus di Kilometer 45 areal PT Freeport.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau