Soto Singkong dan Nasi Punel

Kompas.com - 08/11/2011, 11:02 WIB

Oleh: Dahlia Irawati

JAWA Timur menawarkan eksotika kuliner. Kita coba mencicipi soto singkong di Probolinggo dan nasi punel di Pasuruan. Sebuah pengalaman rasa yang unik dan menyenangkan.

Singkong? Benar, dan itulah suguhan soto singkong Bu Rasmo di Desa Tegalkandang, Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Soto lazimnya menggunakan daging ayam atau sapi. Namun, soto singkong hidangan Bu Rasmo melibatkan singkong. Konon, dulu singkong lebih mudah didapat oleh rakyat kebanyakan ketimbang nasi.

Desa Tegalkandang berada sekitar 20 kilometer ke arah selatan dari jalan raya menuju Paiton. Lokasi warung berada 20 kilometer ke arah selatan menuju Desa Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Jika telah memasuki wilayah Desa Tegalkandang, cobalah cermati papan penunjuk Warung Soto Singkong Bu Rasmo. Warung soto berukuran sekitar 4 meter x 5 meter ini hanya memiliki sebuah meja besar dengan beberapa bangku kayu sebagai tempat duduk. Cukup sederhana.

Hidangan soto singkong terdiri dari irisan lontong, beberapa sendok tumbukan singkong rebus, kikil sapi, serta kuah soto kekuningan. Guna menambah rasa gurih, kita bisa menambahkan koya yang berupa bubuk terbuat dari parutan kelapa, tumbukan kerupuk udang, dan bawang putih.

Rasa gurih dari bumbu soto memang tidak jauh berbeda dengan soto-soto lainnya. Namun, ada satu hal yang akan terus melekat di lidah dan terekam di pikiran, yaitu rasa singkong. Bagi yang belum terbiasa makan singkong, mungkin soto singkong ini akan cukup ”berat” di perut.

”Tambahan singkong inilah yang membedakan soto di sini dengan di tempat lain. Seperti ada citarasa berbeda dan serasa semakin nikmat. Itu sebabnya saya menyukai menu soto singkong ini,” tutur Ali, pelanggan soto singkong asal Kraksaan.

Soto Singkong Bu Rasmo yang buka sejak tahun 1975 ini ikut mewarnai kuliner di Probolinggo. Bu Rasmo meneruskan usaha yang dirintis nenek dan ibunya. Soto singkong semacam ini bisa dijumpai di beberapa daerah di Probolinggo, seperti di Kecamatan Paiton.

Pelanggan soto singkong Bu Rasmo berasal dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Besuki, Probolinggo, Jember, dan kota-kota lainnya. ”Pak bupati juga kadang minta dibungkuskan soto singkong ini melalui pak camat,” ujar Bu Rasmo (55).

Menu spesial tambahan berupa singkong tumbuk, menurut Bu Rasmo, memang menjadi kunci keistimewaan sotonya.

Tidak ada bumbu berbeda dalam racikan soto tersebut. Hanya saja tambahan singkong menjadi pembeda rasa dari soto-soto lain.

”Rasa enak di soto saya ini ya dari tambahan singkong itu. Pernah mencoba menghilangkan singkongnya, tapi justru rasanya tidak enak dan banyak pelanggan meminta diberi singkong lagi,” kata perempuan berlogat Madura tersebut.

Harga semangkuk soto singkong Rp 7.500 per porsi. Dengan harga relatif murah itu, soto Bu Rasmo dilanggani mulai petani, pelajar hingga pejabat.

Nasi punel Bangil

Nasi punel adalah salah satu menu favorit di sepanjang pantai utara Jawa Timur, khususnya di Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Warung Nasi Punel Bu Lin di Jalan Jaksa Agung Suprapto (depan Telkom Bangil) merupakan salah satu pilihan lokasi untuk menikmati nasi punel Bangil. ”Disebut nasi punel karena nasinya berasal dari beras pilihan yang terbaik sehingga kalau dimasak menjadi pulen (empuk),” ujar Sanuri (30), anak Bu Lin yang turut meneruskan usaha itu.

Racikannya lebih mirip nasi campur yang berisi paduan nasi putih dengan beraneka ragam sayur dan lauk. Sayur dan lauk pengisi menu nasi punel terdiri dari sayur nangka yang dimasak mirip gudeg serta sayur tahu tempe bumbu merah.

Masih ada pelengkap hidangan nasi punel, antara lain, serundeng, sambal campur kacang potong pedas, dan lentho yang terbuat dari tempe dibulatkan. Kemudian ada pula tambahan botok parutan kelapa bercampur udang dan bawang putih yang rasanya manis, serta dilengkapi lauk daging sapi.

Aneka sayur dan unsur pelengkap itu memberi sensasi rasa yang penuh warna. Pertama, sensasi rasa nasi putih yang empuk, yang disengat sambal pedas. Datang kemudian kesegaran dari potongan kacang panjang. Datang juga rasa manis dari serundeng. Benar-benar sensasi rasa tersendiri di dalam mulut.

Bu Lin atau nama aslinya Bu Sataka (60) sudah berjualan nasi punel sejak tahun 1980. Awalnya ia menjajakan nasi punel dengan dari rumah ke rumah. Usaha kemdian berkembang hingga akhirnya memiliki warung di jalur utama pantura Jatim.

Pelanggan Bu Lin datang dari berbagai kalangan, termasuk para pejabat. Warung Bu Lin, yang buka sejak pukul 06.00 hingga pukul 22.00, dalam sehari menghabiskan satu kuintal beras untuk melayani pelanggan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau