Riset lipi

Hutan Sagu Papua Terancam Pembabatan

Kompas.com - 09/11/2011, 03:39 WIB

Jakarta, Kompas - Hutan sagu di Papua yang kini tinggal tersisa 3,7 juta hektar terancam pembabatan. Hutan sagu itu secara perlahan kini diganti dengan tanaman pangan lain.

Padahal, sagu merupakan tanaman lokal yang sangat tepat bagi masyarakat dan kondisi alam Papua. Sagu pun sesuai dengan program kedaulatan pangan.

”Hutan sagu tidak merusak lingkungan. Justru tak ramah lingkungan jika hutan sagu dibabat dan diganti areal tanaman pangan lain, seperti padi,” kata Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Sukara, Selasa (8/11), pada konferensi pers pembukaan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (Kipnas) X di Jakarta.

Untuk mewujudkan kedaulatan pangan saat ini, program pemerintah salah satunya adalah membuat Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFE) di Merauke, Papua. Diutamakan untuk penanaman komoditas pangan utama, seperti padi.

”Kita tak pernah belajar mengenai pembangunan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, seperti terjadi di Bagansiapi-api, Riau. Dulu, Bagansiapi-api terkenal sebagai salah satu penghasil ikan terbesar di dunia, tetapi sekarang tak bisa lagi,” kata Endang. Kerusakan ekosistem pesisir penyebabnya.

Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan, para ilmuwan tetap menjunjung tinggi kebenaran, universalitas, dan kepentingan jangka panjang. Risikonya, ilmuwan kerap memperjuangkan kepentingan yang berlawanan dengan kebijakan pemerintah.

Empat prioritas

Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional merupakan agenda empat tahunan sejak 1958. Kali ini, Kipnas menekankan pembahasan empat prioritas, yakni kedaulatan pangan, energi, pengelolaan air, dan inovasi.

”Sistem pemilihan umum menjadikan pemerintah sering mengedepankan kepentingan jangka pendek, sehingga para ilmuwan berkewajiban mengawalnya berbasis kajian ilmiah dan kepentingan jangka panjang,” kata Lukman.

Pemerintah perlu dikawal untuk melindungi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga menghasilkan produk dalam negeri. Dicontohkan, pembuatan radar pantai oleh LIPI sulit menjadi produk andalan dalam negeri —yang butuh 600 unit di seluruh wilayah Indonesia—karena importir juga bergerak menekan pemerintah untuk membebaskan bea masuknya.

”Dengan berbagai keterbatasan pengembangan iptek sekarang ini, semestinya pemerintah melindungi kepentingan jangka panjang untuk mengedepankan produk dalam negeri,” kata Lukman. (NAW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau