Pendidikan di perbatasan

Sekolah Rusak karena Kesalahan Penganggaran

Kompas.com - 09/11/2011, 08:51 WIB

BALIKPAPAN, KOMPAS.com — Anggota Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian berpendapat, kesalahan penganggaran menjadi salah satu penyebab banyaknya sekolah di perbatasan Indonesia-Malaysia dalam kondisi rusak dan tidak bisa diperbaiki dengan segera. Menurut dia, kesalahan penganggaran karena penyusunan anggaran tidak berbasis data dan fakta yang ada.

"Pemerintah pusat entah lupa entah tidak tahu, menyamakan anggaran untuk wilayah perbatasan sama dengan wilayah lain di Indonesia yang relatif tidak punya masalah transportasi," kata Hetifah di Balikpapan, saat mengunjungi kawasan perbatasan Krayan, Long Bawan, Nunukan, Kalimantan Timur, awal pekan ini.

Ia mencontohkan, besaran anggaran pembangunan sebuah ruang kelas Rp115 juta per unit. Menurut dia, angka ini adalah patokan harga di kawasan perkotaan atau daerah yang relatif mudah dijangkau dengan transportasi darat atau air. Namun, angka yang sama kemudian dialokasikan untuk membangun sekolah di kawasan Krayan atau daerah terpencil lainnya di Indonesia.

"Padahal di sana perlunya Rp 300 juta per unit kelas," katanya.

Secara geografis, Krayan terletak di lembah-lembah pegunungan Schwanner. Kawasan ini bisa ditempuh selama 45 menit melalui perjalanan udara dengan pesawat udara berbaling-baling tunggal ke arah barat dari Nunukan, ibu kota Kabupaten Nunukan. Dengan lokasi yang seperti ini, maka harga-harga naik hingga 4-6 kali lipat dari harga di Nunukan. BBM, misalnya, per liternya Rp 20.000. Adapun, harga normalnya adalah Rp 4.500 per liter. Contoh lainnya, semen, yang merupakan komponen penting pembangunan fisik, mencapai Rp 600.000 per zak karena harus diangkut lewat udara karena tak ada jalan darat yang langsung menembus Krayan.

Untuk perbaikan 3 ruang kelas, diperoleh anggaran dari APBN sebesar Rp 350 juta. Jumlah ini, menurut Hetifah, menjadi dilema karena hanya akan cukup untuk membangun satu ruangan kelas. Jika tetap dibangun, akan menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan (BPKP).

"Jadi, akhirnya uang itu hangus dan harus dikembalikan ke kas negara," ujarnya.

Untuk mengatasi kondisi ini, ia berharap peran pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten. Dana APBN tersebut bisa ditambah dengan anggaran provinsi dan anggaran kabupaten.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau