5 Penyebab Tidur Tak Nyenyak

Kompas.com - 09/11/2011, 09:35 WIB

KOMPAS.com - Apa yang Anda rasakan saat bangun tidur? Jika Anda merasakan badan terasa pegal, badan terasa lelah, mata masih ingin terus terpejam, dan bukannya segar, maka sebaiknya Anda mengamati kembali bagaimana Anda tidur. "Kita seharusnya merasa segar setelah bangun tidur, bukannya lelah atau lemas. Jika Anda merasa seperti itu, ada indikasi sesuatu terjadi selama tidur dan Anda tak menyadarinya," ungkap Michael Decker, PhD, profesor dari Georgia State University.

Memiliki waktu tidur yang berkualitas sangatlah penting, bukan hanya dari lamanya waktu tidur, tapi juga dari kualitasnya, yang berakibat pada meningkatnya kebugaran. Ketika Anda tidak mendapatkan kualitas tidur ini, kemungkinan ada beberapa faktor yang menyebabkannya:

1. Kesepian. Sebuah studi menunjukkan bahwa kesepian tidak hanya merupakan masalah hati dan pikiran, tapi juga berpengaruh pada masalah tidur. Berdasar penelitian, orang yang beranggapan bahwa mereka kesepian memiliki waktu tidur yang tidak berkualitas dibanding dengan mereka yang tidak merasa kesepian.

"Siapapun dan dimana pun Anda, kita semua hidup dan bergantung pada perasaan aman dalam lingkungan sosial sekitar kita untuk bisa tidur dengan nyenyak," ungkap peneliti Lianne Kurina, PhD. Faktor sosial dan psikologis sangat berpengaruh pada kualitas tidur seseorang dan kesehatannya.

2. Ketinggian. Lokasi di ketinggian juga berdampak pada kualitas tidur. "Ketika kita berada di dataran tinggi, udara menjadi lebih tipis, sehingga nafas pun menjadi tak teratur dan membuat otak kita 'terkejut' sehingga tidur jadi tidak nyenyak," ungkap Decker. Meskipun tidak hidup di dataran tinggi, namun permasalahan ini juga akan muncul ketika Anda tidur di dalam pesawat terbang.

3. Tidur bersama binatang peliharaan. Dokter hewan sebenarnya sudah menyarankan para pasiennya untuk tidak tidur bersama dengan hewan peliharaan karena resiko penularan penyakit. Selain itu, tidur dengan hewan peliharaan ternyata bisa mempengaruhi kualitas tidur Anda. Sebuah studi yang dilakukan oleh Mayo Clinic pada tahun 2002 menunjukkan bahwa 53 persen pemilik hewan yang tidur bersama peliharaannya mengalami gangguan tidur setiap malamnya. Sebanyak 21 persen pemilik hewan merasa terganggu akibat dengkuran anjing, dan 7 persen akibat dengkuran kucing. Untuk mengatasinya, Decker menyarankan untuk tidak memasukkan hewan peliharaan ke dalam kamar tidur, atau setidaknya tidur di lantai kamar saja.

4. Bekerja malam hari. Bekerja dengan shift malam tanpa disadari bisa berakibat pada kualitas tidur yang buruk. Sebuah penelitian dari Sleep Foundation pada tahun 2005 menyatakan, 14 persen orang Amerika yang sering bekerja malam hari mengalami masalah tidur seperti kelelahan, gangguan tidur, dan insomnia. Decker menjelaskan bahwa masalah yang datang selama bekerja malam hari dan tidur pada siang hari terjadi karena kepekaan tubuh pada cahaya, sehingga tubuh mengambil isyarat adanya cahaya sebagai sinyal untuk bangun tidur.

"Cahaya dan gelap adalah isyarat yang membantu sinkronisasi sistem tubuh kita terhadap lingkungan," tambah Decker.

Konsep yang sama berlaku ketika Anda baru melakukan perjalanan yang melintasi zona waktu, sehingga mengalami jetlag. Saat itu, otak Anda sedang mempersiapkan untuk tidur karena zona waktu Anda berada di zona gelap. "Namun, ketika melintasi zona waktu menuju zona terang, Anda tiba-tiba menerima cahaya baru, dan siklus bangun dan tidur Anda menjadi tidak sinkron. Butuh beberapa hari untuk menyeimbangkannya kembali," ungkapnya.

Salah satu cara yang direkomendasikan Decker untuk mengatasi hal ini adalah menggunakan penutup mata ketika tidur di siang hari untuk menstimulasi kegelapan dan tertidur.

5. Suhu ruangan. Apakah Anda sering membuatkan segelas susu hangat untuk anak Anda sebelum tidur? Ternyata hal ini memiliki khasiat untuk membuat tidur anak lebih nyenyak. Kondisi ruangan dan tubuh yang hangat bisa mempengaruhi nyenyak tidaknya tidur seseorang. Di malam hari, suhu tubuh mulai turun, dan penurunan suhu tubuh ini menandakan bahwa sudah waktunya untuk tidur. Mandi air hangat dan minum minuman hangat juga bisa membuat tubuh semakin menurunkan suhu tubuhnya dan mengirimkan sinyal fisiologis untuk tidur.

"Jika kamar terlalu hangat, suhu tubuh kita pun akan meningkat dan membuat kita terbangun. Mendinginkan ruangan bisa membantu memastikan bahwa tidur akan lebih berkualitas dan nyenyak," ungkap Decker. Saat pagi, suhu tubuh kita mulai meningkat secara bertahap, dan mengirim sinyal ke otak untuk bangun.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau