Diterjang Lahar Dingin, Aktivitas Penduduk Terhambat

Kompas.com - 09/11/2011, 18:54 WIB

KOMPAS — Terjangan lahar dingin Gunung Semeru yang turun sejak Senin (7/11/2011) mulai mengganggu aktivitas pencari batu di Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Sejumlah truk pengangkut pasir terjebak aliran air disertai pasir dan perjalanan penduduk menjadi terhambat.

”Saya kemarin sudah mengumpulkan batu-batuan dari Gunung Semeru. Tiba-tiba, sore hari, banjir lahar Semeru datang. Hilanglah material yang sudah saya kumpulkan seharian,” kata Zurur (35), pencari batu asal Dusun Ringin Putih, Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian, Selasa.

Zurur biasanya mencari batu di Kali Regoyo, sungai aliran lahar Gunung Semeru di dekat rumahnya. Banjir lahar dingin Semeru, menurut dia, sudah terjadi sejak dua hari terakhir ini, dan tidak bisa diduga. ”Biasanya menjelang sore tiba-tiba datang banjir besar, dan keesokan hari air sudah surut. Jadi, memang sulit dideteksi,” ujar Zurur.

Di Kali Rejali, Desa Bago, Kecamatan Pasirian, juga aliran lahar Semeru, pada Senin petang, tujuh truk terjebak banjir lahar dingin Semeru. Hingga Selasa pukul 11.00, masih terdapat tiga truk yang belum berhasil dievakuasi.

Salah satu truk yang terjebak milik Jumat (48), pencari pasir asal Malang. Truk milik Jumat tertimbun air berpasir hingga setinggi setengah badan truk.

”As truknya patah sehingga saat banjir lahar dingin tiba, truk langsung tersapu air berpasir,” tutur Rahman, saksi mata.

Sekretaris Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Kabupaten Lumajang Rochani mengatakan sudah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk berhati-hati saat musim hujan ini. ”Bahkan, khusus bagi pencari pasir di aliran lahar Semeru diminta untuk lebih mewaspadai lahar dingin Semeru yang bisa datang tiba-tiba,” katanya.

Mengutamakan pelajar

Dari Boyolali, Jawa Tengah, dilaporkan, aktivitas warga di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, kembali normal. Jembatan yang membentang di Kali Apu kini sudah bersih dari material lahar sehingga dapat dilalui.

Sebelumnya, jembatan yang menghubungkan Desa Tlogolele dan Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, tidak dapat dilalui kendaraan.

Kepala Desa Tlogolele Budi Harsono mengungkapkan, material lahar dingin berupa bebatuan dan pasir di tengah jembatan sudah disingkirkan dengan alat berat sejak Selasa.

”Paling penting, anak-anak sekolah bisa berangkat ke sekolah dengan lancar. Walaupun tidak banyak yang bersekolah di Selo, mereka tetap harus diperhatikan,” kata Budi.

Jika tidak melalui jembatan sepanjang 120 meter dan lebar 5 meter itu, warga harus memutar arah melalui Tlatar, Sawangan, Magelang. Jarak yang harus ditempuh mencapai 20 kilometer lebih jauh.

Sementara itu, aktivitas penambangan pasir yang marak di tepi sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi di Kabupaten Magelang merusak tanggul yang sengaja dibangun sebagai penahan banjir lahar dingin. (UTI/EGI/DIA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau