Suasana Maligi Masih Mencekam Pascabentrokan

Kompas.com - 09/11/2011, 19:17 WIB

SIMPANG AMPEK, KOMPAS.com — Suasana di kawasan perkebunan kelapa sawit PT Permata Hijau Pasaman II di Pasaman Barat, Sumatera Barat, masih mencekam pascakerusuhan. Personel polisi tetap bertahan di lokasi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di Simpang Ampek, Rabu (9/11/2011), empat warga Maligi dirawat di Puskemas Sasak akibat bentrokan dengan aparat keamanan, Selasa.

Keempat warga itu adalah Yunisma (52), Erna (40), Mera (31), dan Masrida (41). Mereka mengalami luka memar terkena benda tumpul yang membuat napas sesak dan leher sakit.

Sementara itu, 18 warga Maligi yang turut menjadi korban bentrokan dengan aparat keamanan masih mengungsi ke Simpang Ampek. Mereka semua adalah wanita berumur mayoritas 40 tahun ke atas bahkan ada yang lanjut usia. Mereka mengalami luka memar, patah tangan, dan luka pada wajah.

Kerusuhan bermula saat massa yang mengatasnamakan masyarakat Maligi menuntut dan mengklaim lahan seluas 650 hektar yang dikelola perusahaan tersebut.

Bentrokan antara massa dan pihak kepolisian tidak terelakkan yang menyebabkan seluruh karyawan PT PHP II berhamburan menyelamatkan diri karena merasa terancam keselamatannya.

Sekitar 10 rumah karyawan dirusak dan dibakar oleh massa yang menyebabkan semua penghuni rumah itu berhamburan menyelamatkan diri.

Massa juga merusak dan membakar kantor, bengkel, tiga pos penjagaan, lima  kendaraan roda dua, dan satu mobil dalam kerusuhan Selasa lalu. Peristiwa itu menyebabkan PT PHP II  rugi sekitar Rp 800 juta.

Hal itu sesuai dengan laporan dari Wakil Manager PT PHP II Wardio kepada pihak kepolisian dengan laporan polisi Nomor 435/11/2011/Sumbar/Res-Pasbar tanggal 8 November 2011. Kepala Bagian Operasi Polres Pasaman Barat Komisaris Erdiman menyebutkan, kondisi di Maligi sudah berangsur kondusif.

"Saat ini kondisi Maligi mulai kondusif, tetapi aparat masih berjaga-jaga di lokasi. Kami berharap warga dapat menahan emosi dan semua persoalan dapat diselesaikan dengan baik," katanya, Rabu.

Sementara itu, anggota DPRD Sumbar, Zulkenedi Said ,kepada wartawan mengaku sangat prihatin dan menyesalkan kerusuhan di Maligi karena persoalan lahan perkebunan.

Dia juga berharap segera ditemukan oknum polisi yang melakukan kekerasan terhadap warga dan Kapolda Sumbar segera mengusut dan menyelidiki kasus itu.

"Kalau memang ada kejadian di luar protap atau ketentuan yang berlaku, saya meminta Kapolda menurunkan tim untuk melakukan investigasi atas kejadian ini," ujarnya.

Ia juga meminta kepala daerah setempat bisa merespons masalah itu agar tidak berlarut-larut karena akan merugikan semua pihak, baik masyarakat, perusahaan, maupun pemerintah daerah.

"Saya dan anggota DPRD Sumbar dari daerah pemilihan 5 yang berjumlah 12 orang akan terus memonitor perkembangan terkait langkah-langkah yang akan diambil pemerintah dan kepolisian," tegas Zulkenedi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau