Kriminalitas

Penipu Calon Haji Perintah Korbannya Keliling Senayan

Kompas.com - 10/11/2011, 03:02 WIB

Empat orang yang masih ada hubungan kerabat ditahan polisi. Mereka sedikitnya telah menipu 450 orang yang berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kepada korban, pelaku memberi iming-iming akan diberangkatkan haji secara gratis oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia Pusat pada musim haji tahun ini.

Keempat tersangka tersebut adalah Suparti (33); Heru Listiyono (31), keponakan Suparti; Mualim HS (63), sepupu Suparti; dan Ramdonah (52), istri Mualim. Keempatnya ditangkap Selasa lalu dan resmi ditahan mulai kemarin.

Untuk meyakinkan aksinya, mereka memberi uang satu riyal dan pelatihan ”manasik haji” keliling Stadion Gelora Bung Karno. Para korban paling sedikit harus membayar Rp 455.000 sebagai biaya pendaftaran.

”Penipuan yang dilakukan para tersangka tersebut sudah berlangsung sejak Maret 2011. Yang resmi melaporkan mereka sekitar 70 orang. Namun, berdasarkan dokumen yang disita dari para tersangka, kemungkinan besar korbannya ratusan orang,” kata Direktur Reserse Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Gatot Edy Purnomo, Rabu (9/11) siang.

”Suparti menjadi karyawan di Koperasi KONI. Dia menipu dengan membawa-bawa nama KONI. Padahal, KONI sama sekali tidak tahu-menahu program naik haji gratis bersama KONI yang para tersangka tawarkan itu. Walaupun bilangnya gratis, peminat harus membayar minimal Rp 455.000 per orang sebagai biaya pendaftaran,” kata Kepala Subdirektorat Renakta Diserse Krimun Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Parulian Sinaga, kemarin sore.

Barang bukti yang disita dari para tersangka, antara lain, brosur penawaran haji gratis, buku tabungan, buku berisi nama-nama orang yang sudah mendaftar, dan formulir pendaftaran beserta fotokopi sejumlah dokumen identitas para korban.

Selain harus membayar Rp 455.000, peminat juga harus mengisi formulir pendaftaran yang dilengkapi dengan fotokopi KTP, akta kelahiran/surat tanda lahir, ijazah, dan kartu keluarga peminat. Uang pendaftaran dapat diserahkan langsung atau dikirim melalui rekening tersangka yang tercantum dalam brosur penawaran.

Saat tas para tersangka digeledah, juga ditemukan bungkusan-bungkusan kecil yang ternyata berisi bunga kantil dan benda lain yang diakui tersangka Mualim sebagai jimat.

”Uang sebesar Rp 455.000 itu dikatakan para pelaku untuk biaya nomor kuota haji Rp 100.000, vaksinasi Rp 150.000, bakti sosial Rp 50.000, dan pelatihan manasik haji Rp 155.000. Mereka yang sempat menerima pelatihan ’manasik haji’ dan mendapat perlengkapannya ditarik biaya ratusan ribu rupiah lagi saat acara berlangsung. Jadi, barang-barang yang diterima korban pun bukan gratis,” kata Sinaga.

Salah seorang korban yang ikut melaporkan, Ny SSE, menuturkan, mereka tertarik ikut mendaftar karena pelaku memberikan brosur program naik haji gratis itu dengan nama KONI. Mereka juga melihat, sejumlah orang yang mendaftar lebih dahulu sudah diajak mengikuti pelatihan manasik haji dan diberi perlengkapan untuk manasik haji, seperti baju ihram, sepatu, sajadah, mukena atau sarung, dan tasbih.

Latihan manasik haji dilakukan dengan keliling Stadion Gelora Bung Karno di Senayan beberapa kali. Setelah itu diajak ke Yogyakarta dan Solo untuk latihan manasik haji, yakni dengan berkeliling di sebuah lapangan di kota-kota itu. Korban juga diharuskan berendam di sebuah sungai dengan alasan agar mereka kuat menahan dingin saat berada di pesawat terbang menuju Mekkah.

”Saat mendaftar itu, kami juga diberi uang satu riyal. Kata Suprapti, itu oleh-oleh karena dia baru pulang umrah dan juga sebagai tanda jadi pasti berangkat haji,” katanya.

Menurut Parulian Sinaga, karena ada ”pelatihan” manasik haji dan ada peserta yang diajak ke Solo dan Yogyakarta, kemudian banyak orang menjadi tertarik untuk ikut mendaftar tanpa mengecek lebih dulu ke KONI.

Para korban baru menyadari telah menjadi korban penipuan ketika para tersangka sulit dihubungi, acara pelatihan manasik haji selalu ditunda, dan ketika waktu berangkat ke Tanah Suci sudah dekat ternyata tidak ada yang dipanggil.

”Koordinator calon jemaah haji itu lalu mengecek ke KONI. Mereka pun amat terkejut karena memang tidak ada program naik haji gratis itu,” kata Sinaga. (RTS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau