Kongres Bawang Tolak Impor

Kompas.com - 10/11/2011, 03:14 WIB

CIREBON, KOMPAS - Kalangan petani bawang merah dari sembilan provinsi di Indonesia menggelar kongres bawang nasional pertama di Kota Cirebon, Jawa Barat, Rabu (9/11). Mereka marah dan mendesak pemerintah agar serius mengatur tata niaga bawang merah. Petani selalu dirugikan oleh kebijakan impor bawang merah yang ngawur.

Kongres Bawang Merah Nasional pada 9-10 November 2011 di Cirebon dimaksudkan untuk membentuk Dewan Bawang Merah Republik Indonesia guna memperbaiki kesejahteraan petani. Dewan serupa sudah dibentuk untuk komoditas gula dan tebu, yaitu Dewan Gula Nasional.

”Dewan Nasional Bawang Merah kami bentuk untuk menjadi rekanan dan memberi masukan kepada pemerintah dalam tata niaga bawang merah. Dengan demikian, tata niaga bawang merah nasional tidak lagi merugikan petani,” kata Mudatsir, salah satu peserta kongres, Rabu. Ia adalah pengurus Koperasi Nusantara Jaya di Desa Ender, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon.

Kongres diikuti sekitar 35 petani bawang merah dari Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.

Tanpa regulasi

Mudatsir menguraikan, selama ini tidak ada regulasi yang jelas dari pemerintah mengenai kuota impor dan distribusi bawang merah di dalam negeri. Persoalan standar harga juga tidak diatur sehingga harga bawang merah sangat fluktuatif.

Di sisi lain, para petani bawang merah merasa pemerintah belum cukup memberikan perhatian kepada komoditas ini. Hal itu, antara lain, ditunjukkan dengan waktu impor yang tidak sesuai dengan masa tanam atau panen petani. ”Saat kami sedang panen, pemerintah justru mengimpor bawang merah dari Filipina, Vietnam dan India. Hal ini sudah pasti memukul harga bawang merah di pasaran. Apalagi, bawang merah dari luar negeri, terutama India, harganya jauh lebih murah daripada bawang merah lokal,” tutur Mudatsir.

Sunarto, petani dari Losari, Kabupaten Cirebon, menambahkan, pihaknya tidak menolak impor bawang merah. Namun, impor harus pada momen yang tepat, yaitu saat gagal panen atau kekurangan bibit.

”Sepanjang tahun 2011, harga bawang merah pada tingkat petani hanya Rp 7.500 per kilogram. Idealnya Rp 10.000 per kilogram. Saat panen, harga hanya Rp 5.000 per kilogram. Dengan kondisi seperti itu, petani merugi Rp 20 juta-Rp 25 juta per hektar,” kata Sunarto.

Ketua Badan Penyangga dan Distribusi Bawang Merah Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Ranggasasana menyebutkan, petani juga memerlukan dukungan pemasaran dan distribusi. (REK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau