Kongres Bawang Merah Nasional pada 9-10 November 2011 di Cirebon dimaksudkan untuk membentuk Dewan Bawang Merah Republik Indonesia guna memperbaiki kesejahteraan petani. Dewan serupa sudah dibentuk untuk komoditas gula dan tebu, yaitu Dewan Gula Nasional.
”Dewan Nasional Bawang Merah kami bentuk untuk menjadi rekanan dan memberi masukan kepada pemerintah dalam tata niaga bawang merah. Dengan demikian, tata niaga bawang merah nasional tidak lagi merugikan petani,” kata Mudatsir, salah satu peserta kongres, Rabu. Ia adalah pengurus Koperasi Nusantara Jaya di Desa Ender, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon.
Kongres diikuti sekitar 35 petani bawang merah dari Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.
Mudatsir menguraikan, selama ini tidak ada regulasi yang jelas dari pemerintah mengenai kuota impor dan distribusi bawang merah di dalam negeri. Persoalan standar harga juga tidak diatur sehingga harga bawang merah sangat fluktuatif.
Di sisi lain, para petani bawang merah merasa pemerintah belum cukup memberikan perhatian kepada komoditas ini. Hal itu, antara lain, ditunjukkan dengan waktu impor yang tidak sesuai dengan masa tanam atau panen petani. ”Saat kami sedang panen, pemerintah justru mengimpor bawang merah dari Filipina, Vietnam dan India. Hal ini sudah pasti memukul harga bawang merah di pasaran. Apalagi, bawang merah dari luar negeri, terutama India, harganya jauh lebih murah daripada bawang merah lokal,” tutur Mudatsir.
Sunarto, petani dari Losari, Kabupaten Cirebon, menambahkan, pihaknya tidak menolak impor bawang merah. Namun, impor harus pada momen yang tepat, yaitu saat gagal panen atau kekurangan bibit.
”Sepanjang tahun 2011, harga bawang merah pada tingkat petani hanya Rp 7.500 per kilogram. Idealnya Rp 10.000 per kilogram. Saat panen, harga hanya Rp 5.000 per kilogram. Dengan kondisi seperti itu, petani merugi Rp 20 juta-Rp 25 juta per hektar,” kata Sunarto.
Ketua Badan Penyangga dan Distribusi Bawang Merah Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Ranggasasana menyebutkan, petani juga memerlukan dukungan pemasaran dan distribusi.