Kejutan Barli Asmara di Pameran Seni Rupa

Kompas.com - 10/11/2011, 14:25 WIB

KOMPAS.com - Panggung mode bukan satu-satunya tempat perancang busana untuk unjuk karya. Fashion juga bisa menyatu dengan seni rupa kontemporer. Inilah yang ingin ditunjukkan pameran seni rupa kontemporer PMR Cube di Jakarta, 1-6 Desember 2011, bertempat di Atrium Sampoerna Strategic Square.

Sebanyak 11 desainer busana muda terpilih untuk mengikuti perhelatan seni yang tak biasa ini. Dengan sentuhan Sebastian Gunawan sebagai kurator fashion, terpilihlah sejumlah nama yang menampilkan instalasi fashion, tanpa model dan panggung mode.

Mereka adalah Barli Asmara, Andreas Odang, Adesagi Kierana, Deden Siswanto, Didit Hediprasetyo, Jeffry Tan, Oka Diputra, Sofie, Sapto Djokokartiko, Steven Huang, Tex Saverio.

Para perancang busana muda ini ditantang untuk menghadirkan karya fashion dengan kemasan berbeda. Kreativitas untuk menciptakan display karya fashion teruji di pameran yang bertema  "Contemporary Cultural Interplay" ini.

"Mereka bebas mengekspresikan fashion, dengan tetap menjadi dirinya, tak perlu menjadi seniman seni rupa. Namun menampilkan fashion dengan cara yang tidak biasa," jelas Jim Supangkat, kurator seni ternama di Indonesia, saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (9/11/2011) lalu.

Tantangan untuk Barli

Barli siap menjawab tantangan dari Majalah Indonesia Tatler, selaku penyelenggara yang didukung oleh Art Stage Singapore. Mengangkat tema "Natural Bond Beauty", Barli menghadirkan tiga set busana yang menggali warisan budaya, yakni teknik makram yang identik dengan tali-menali seperti rajutan.

Barli menyebut koleksi busana dengan teknik makram sebagai masterpiece yang juga merupakan tren 2012 untuk label Barli Asmara miliknya. Koleksi busana ini juga telah ditampilkan dalam panggung mode pada Oktober 2011 lalu, di Trend Show 2012 Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), organisasi yang menaunginya.

Di Trend Show 2012 IPMI, Barli menampilan 40 set busana siap pakai yang eksotis, mulai gaun cantik, long dress juga jaket. Barli memilih bahan siffon dengan warna krem natural, dan teknik makram (tali menali) sebagai ciri khas dan pembeda, sekaligus tren kreasinya.

"Untuk menampilkan karya di pameran seni rupa tak harus membuat baru. Tetapi bisa dengan memilih dari produk yang sudah ada. Asalkan produk tersebut menonjolkan ciri khas desainer dan masterpiece-nya," jelas Barli.

Busana atasan, evening dress, cocktail dress dengan teknik makram ala Barli lolos seleksi. Meski pernah ditampilkan di Trend Show 2011 IPMI, busana rancangan Barli ini tampil berbeda dengan konsep display yang juga dirancang sendiri olehnya.

"Bedanya, busana ini akan ditampilkan dalam display bukan di fashion runway. Nantinya, busana ini ditampilkan dengan seperti digantung sehingga tali temali, teknik makram itu terlihat lebih detil," kata Barli yang fokus memikirkan konsep display sejak terpilih seleksi 1-2 bulan lalu.

Barli mengaku untuk kali pertama mengikuti pameran seni rupa kontemporer. Baginya, kesempatan untuk tampil berbeda ini memberikan banyak manfaat bagi desainer muda sepertinya.

"Ini merupakan salah satu cara untuk mempromosikan desainer busana lokal. Selain juga menjadi cara untuk memancing kreativitas desainer untuk kembali menciptakan karya baru, menggali teknik baru dalam bidang fashion, dan juga menampilkan fashion secara berbeda bukan made to order seperti biasanya," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau