5 Strategi Bisnis yang Cocok untuk Pasangan Menikah

Kompas.com - 10/11/2011, 19:42 WIB

KOMPAS.com - Membina hubungan berpasangan punya kesamaan dengan membangun sebuah perusahaan. Anda perlu membuat anggaran, mendelegasikan tugas, memotivasi, dan juga memberikan penghargaan. Anda dan pasangan juga harus membuat perencanaan matang dalam berbagai hal sama seperti manajemen dalam perusahaan. Pasangan menikah juga perlu melakukan pembagian tugas seperti yang terjadi di perusahaan.

Prinsipnya, apa yang dilakukan di perusahaan juga diaplikasikan di rumah bersama pasangan Anda. Agar perusahaan berkelanjutan dibutuhkan strategi. Begitu pun dalam hubungan, perlu ada strategi agar Anda dan pasangan tetap harmonis.

Jenna McCarthy dari Redbook menuliskan sejumlah strategi bisnis pun bisa diadopsi di rumah tangga untuk membangun hubungan berpasangan. Untuk membuktikan teorinya, McCarthy menemui sejumlah petinggi perusahaan untuk menemukan strategi bisnis seperti apa yang relevan diaplikasikan dalam hubungan berpasangan. Inilah hasilnya:

1. Memiliki prinsip yang disepakati bersama.

Seringkali pasangan menikah mempermasalahkan hal kecil yang memicu konflik. Bonnie Bruderer, pendiri dan CEO  VISS,  penyedia jasa pelatihan kepemimpinan menyarankan, pasangan menikah perlu membuat lima hal penting yang dibutuhkan atau diharapkan dari pasangan. Misalnya, saling mendengarkan, menunjukkan kasih sayang, atau hal lain yang menjadi prinsip penting bagi Anda dan pasangan.

Jadikan daftar prinsip penting ini sebagai panduan bagi pasangan. Jika ada hal kecil yang memicu pertengkaran, apakah hal tersebut masuk dalam daftar hal penting tadi. Jika tidak, artinya hal yang dipertengkarkan tadi tak penting dan tak perlu dibesar-besarkan, apalagi menimbulkan konflik berkepanjangan.

"Dalam dunia kerja, biasanya perusahaan akan memberitahukan apa yang diharapkannya dari Anda. Kinerja Anda kemudian dievaluasi apakah memenuhi ekspektasi tadi. Untuk itu perusahaan membuat daftar ekspektasi apa yang dibutuhkan dari karyawannya," kata Bruderer.

Pendekatan seperti ini pun bisa diaplikasikan di dalam pernikahan. Supaya, saat pasangan lupa menutup kembali tutup pasta gigi, selama itu tidak terdaftar dalam prinsip penting tadi, hal itu bukan masalah besar dan tak perlu dipermasalahkan.

2. Kalahkan satu hal negatif dengan empat hal positif.
Jika Anda ingin mengubah perilaku seseorang, fokuslah pada hal positif, kata Scott Blanchard, Wakil Presiden Ken Blanchard Companies, perusahaan yang bergerak di pengembangan kepemimpinan.

"Mengomel pada seseorang karena perilaku buruknya hanya akan membuatnya taat karena takut, namun tak membuatnya bertumbuh lebih baik," katanya. Rumus ajaib untuk mengubah seseorang lebih baik adalah, sampaikan lebih banyak pesan positif, dari setiap satu hal negatif yang dilakukannya. Cara ini berhasil diterapkan Blanchard di pekerjaan juga dalam pernikahannya.

3. Berikan peran sesuai kemampuan.

Setiap individu memiliki keunikan, kelebihan termasuk kelemahan. Tak ada individu yang lebih baik dari individu lainnya. Setiap orang dapat berkembang lebih baik, jika diperlakukan dengan adil sesuai kemampuan dan potensinya.

Frank McNair dalam bukunya yang berjudul The Golden Rules for Managers menuliskan, seorang manajer seharusnya bisa melihat kelebihan dari karyawannya, lalu menempatkan karyawan tersebut pada pekerjaan yang membuatnya bisa berkembang dengan potensi yang dimilikinya.

Hal yang sama juga bisa diaplikasikan dalam hubungan berpasangan. Jangan meminta pasangan shopaholic untuk mengurusi anggaran rumah tangga. Prinsipnya, jangan menuntut pasangan untuk melakukan hal yang bukan menjadi keahliannya. Menerima pasangan dan memaksimalkan kelebihannya, bukan fokus pada kelemahannya, membuat hubungan lebih harmonis.

4. Lakukan evaluasi.
Perusahaan mana pun akan mengevaluasi performa setiap karyawannya, juga mengulas kembali apakah bisnis berjalan sesuai harapan atau tidak. Penilaian dilakukan dari level manajer hingga staf.

Evaluasi juga perlu dilakukan dalam pernikahan. Seringkali, pasangan menikah menerima kritik, masukan, atau penilaian dari orang lain. Atau bahkan meminta perspektif orang lain, teman atau keluarga, untuk menilai apakah hubungan masih sehat atau tidak. Namun satu hal yang penting tak dilakukan, yakni saling mengevaluasi diri, dengan meminta masukan dan kritik langsung dari pasangan.

5. Memberikan perlakuan istimewa.

Bisnis yang sukses mampu menggaet pelanggan karena rasa percaya dan nyaman. Untuk menggaet hati pelanggan, pemilik bisnis perlu memperlakukannya bak raja.

Julie Spira, entrepreneur, menyarankan pasangan juga perlu saling memberikan perlakuan istimewa seperti memperlakukan klien penting.

Anda dan pasangan bisa saling bergantian memberikan perlakuan istimewa, atas kesadaran pribadi. Anda dan suami saling bergantian merencanakan kencan mingguan, atau merancang perjalanan liburan.

"Dalam bisnis, Anda akan dipecat jika tidak melakukan upaya apapun untuk meningkatkan kualitas pekerjaan. Dalam pernikahan, jika Anda dan pasangan tidak melakukan upaya apa pun untuk meningkatkan kualitas hubungan, akhirnya adalah perceraian," tandas Spira.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau