Jakarta, Kompas
Demikian dikatakan Kepala Biro Humas BI Difi Ahmad Johansyah, mengutip penjelasan Dewan Gubernur soal penurunan suku bunga tersebut.
Tindakan BI bertujuan, antara lain, merangsang konsumsi dan investasi. Penurunan terbaru itu merupakan lanjutan dari langkah BI pada Oktober lalu, yang menurunkan suku bunga dari 6,75 persen menjadi 6,5 persen.
Bulan lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia tahun 2011 turun menjadi rata-rata 6,3 persen dari perkiraan sebelumnya sekitar 7 persen. IMF menyebutkan, faktor krisis di AS dan Eropa merupakan faktor utama penyebab penurunan pertumbuhan ekonomi Asia.
Pihak Eropa memperingatkan krisis utang di zona euro sudah membawa kawasan ke resesi. ”Pertumbuhan ekonomi melambat di Eropa,” ujar Ketua Komisi Uni Eropa untuk Urusan Ekonomi Olli Rehn di Brussels, Belgia, Kamis.
Data dari sejumlah negara di Asia juga menunjukkan ekspor yang menurun untuk tujuan AS dan Eropa akibat lemahnya permintaan. Untuk mengompensasi hal itu, bank sentral di Australia, Singapura, dan Pakistan melonggarkan kebijakan moneter untuk menggenjot perekonomian dengan menurunkan suku bunga.
Menurut BI, penurunan BI Rate ini sejalan dengan tekanan inflasi yang semakin rendah. Kenaikan suku bunga dalam keadaan inflasi yang tidak menjadi ancaman adalah sebuah tindakan yang tidak membahayakan perekonomian. ”Penurunan suku bunga juga dimaksudkan untuk mengurangi dampak negatif dari ekonomi global yang memburuk terhadap perekonomian Indonesia,” kata Difi.
BI juga optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 mencapai 6,5 persen. Pertumbuhan ini didorong pertumbuhan di sektor industri, perdagangan, hotel dan restoran, transportasi, serta komunikasi.
Hal ini senada dengan pernyataan Bank Pembangunan Asia (ADB) bahwa resesi global memengaruhi kinerja ekspor Asia. Namun, ADB menekankan, Asia punya faktor pendorong ekonomi alternatif, yakni permintaan domestik.
Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) Sigit Pramono mengatakan, penurunan suku bunga oleh BI akan sejalan dengan penurunan suku bunga pinjaman perbankan.
Penurunan suku bunga oleh BI juga didorong suasana moneter yang kondusif. Ekonom Bank Danamon, Anton Gunawan, berpendapat, alasan penurunan tidak hanya untuk mengantisipasi penurunan pertumbuhan ekonomi global. ”BI ingin menurunkan suku bunga yang saat ini dinilai terlalu tinggi. Kebetulan, kondisi saat ini menunjang penurunan suku bunga dengan inflasi yang terjaga rendah,” kata Anton.
Derasnya dana asing yang masuk ke Indonesia juga membuat BI harus mengintervensi pasar. Intervensi ini bertujuan menjaga nilai tukar rupiah agar tidak terlalu kuat. Hal ini, antara lain, dilakukan lewat penurunan suku bunga. Kurs sebuah mata uang berkorelasi positif dengan suku bunga. Suku bunga yang tinggi membuat kurs mata uang menguat dan sebaliknya.
Ekonom Bank Negara Indonesia (BNI), Ryan Kiryanto, berpendapat, perbankan mestinya merespons penurunan BI Rate dengan menurunkan suku bunga komersial.
Di samping antisipasi dari sektor makro, sejumlah pihak di Indonesia juga sudah memperlihatkan kewaspadaan soal dampak negatif penurunan ekonomi zona euro. Lebih jauh lagi, sejumlah bank di Indonesia juga sudah paham soal pentingnya kehati-hatian dalam menjalin relasi bisnis dengan lembaga keuangan Eropa.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, misalnya, lebih besar posisi pinjaman BRI dari perbankan di Jerman ketimbang bank di Jerman meminjam dana BRI. Ini artinya, jika ada masalah dengan uang BRI di Jerman, masih bisa dikompensasikan dengan dana bank asal Jerman yang ada di BRI.
Mengenai nasabah, hanya satu nasabah BRI yang mengekspor seragam militer ke Jerman, dengan
Sekretaris Perusahaan Bank BRI Muhamad Ali menjelaskan, sejauh ini bank-bank koresponden BRI di Eropa adalah bank kategori utama. ”Secara umum, posisi BRI juga aman dalam berhubungan dengan mereka,” kata Ali di Jakarta, Rabu.
The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited (HSBC), yang banyak memiliki nasabah eksportir, tidak memberikan kredit ekspor dengan jaminan dari bank-bank di Eropa. Nirmala Salli, Head of Trade and Supply Chain Indonesia HSBC, mengatakan, kondisi Eropa sedang lesu. Namun, belum terlihat kondisi buruk yang berpengaruh terhadap ekspor Indonesia ke Eropa.
Direktur Tresuri dan Keuangan PT BNI (Persero) Tbk Adi Setianto Soemarsono menyatakan, BNI juga tak sembarangan melibatkan bank-bank di Eropa sebagai mitra dalam kegiatan pasar uang, valuta asing, dan jalur komersial kredit. Untuk kegiatan semacam ini, BNI akan memantau lebih dulu, baik kondisi negaranya maupun banknya. ”Kalau kira-kira akan bermasalah, ya kami hentikan dulu,” kata Adi.(REUTERS/AP/AFP/JOE/BEN/IDR)