Kapolsek Cicendo Lepas WN Malaysia demi Rp 1 Miliar

Kompas.com - 11/11/2011, 14:13 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Komisaris Brusel Duta Samodra, Kepala Polsek Cicendo nonaktif, diduga menerima imbalan Rp 1 miliar untuk menangguhkan penahanan Azri bin Abdullah. Azri adalah warga negara Malaysia yang kedapatan membawa sabu-sabu 4,27 gram di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat.

Hal itu terungkap dalam pembacaan dakwaan kasus penyuapan yang menempatkan Brusel di kursi pesakitan di Pengadilan Tipikor Bandung, Jumat (11/11/2011). Majelis hakim diketuai Gusti Ngurah Artanaya serta dua hakim ad hoc Adriano dan Basari Budhi.

Kisah pilu dunia penegakan hukum ini terjadi pada 11 Juli saat Azri dan teman wanitanya kedapatan membawa sabu-sabu oleh petugas Bea Cukai Bandara Husein Sastranegara. Keduanya pun dilimpahkan ke Polsek Cicendo untuk diperiksa. Hasil tes urine ternyata menunjukkan Azri mengonsumsi narkotika.

Selama pemeriksaan itulah, Azri memohon agar penahanannya ditangguhkan karena anaknya sedang sakit. Dia pun menjanjikan uang Rp 1 miliar sebagai jaminan. Tawaran tersebut baru ditanggapi keesokan harinya.

Uang pun diterima Brusel dan ditransfer ke rekening istrinya setelah sebelumnya berputar melalui rekening temannya dengan alasan transfer untuk bisnis jual beli batu giok.

Rupanya, Brusel belum sempat menikmati uang tersebut karena keburu dicokok petugas Polrestabes Bandung.

Sidang berikutnya akan dilangsungkan pada 23 November.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau