Sanksi terhadap Iran Tak Berguna

Kompas.com - 12/11/2011, 03:19 WIB

Beijing, Jumat - China menyatakan, segala bentuk tekanan dan sanksi terhadap Iran tidak akan membantu menyelesaikan masalah mendasar seputar program nuklir Iran. Secara tersirat, China keberatan dengan rencana penerapan sanksi ekonomi baru terhadap Iran oleh pihak Barat.

Pernyataan China itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei, dalam jumpa pers rutin di Beijing, Jumat (11/11). ”Saya ingin menegaskan kembali bahwa dialog dan kerja sama adalah saluran paling efektif untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran. Tekanan dan sanksi-sanksi tak akan membantu menyelesaikan secara mendasar permasalahan ini,” tutur Hong.

AS dan negara-negara Barat lainnya dikabarkan sedang menyiapkan rangkaian sanksi baru yang lebih berat, terutama dari sisi ekonomi dan politik, terhadap Iran setelah mendengar paparan laporan penyelidikan terbaru Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) terhadap program nuklir Iran. Mereka ingin sanksi dijatuhkan oleh Dewan Keamanan PBB.

Namun, Rusia dan China— yang memiliki hak veto di DK PBB—menentang rencana itu dan menegaskan, sanksi-sanksi baru tak akan ada gunanya.

Hubungan ekonomi

China dan Rusia masih memiliki hubungan baik dengan Iran, baik di bidang politik maupun ekonomi, meski kedua negara itu masuk dalam P5+1, yakni enam negara kekuatan utama dunia yang berunding dengan Iran untuk memastikan program nuklir negara itu bukan bertujuan membuat senjata. Empat negara lainnya adalah AS, Inggris, Perancis, dan Jerman.

Iran menjadi pemasok minyak mentah terbesar ketiga untuk China, dan telah mengirim tak kurang dari 20,3 juta ton minyak ke China sepanjang tahun ini hingga September. Jumlah itu meningkat sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Apabila sanksi ekonomi DK PBB yang lebih luas terhadap Iran jadi dijatuhkan, seluruh negara di dunia, termasuk China dan Rusia, wajib mematuhi resolusi tersebut. Ini berarti hubungan bisnis antara China dan Iran bisa terganggu, termasuk pasokan minyak yang sangat dibutuhkan untuk menggerakkan ekonomi China.

Padahal, kata Hong Lei, hubungan dagang antara China dan Iran selama ini berjalan normal, transparan, dan tak berkaitan dengan proliferasi nuklir sehingga tak perlu menjadi korban sanksi dunia internasional.

”Perjanjian dagang ini menguntungkan rakyat kedua negara. Hubungan itu tak membahayakan negara-negara lain atau masyarakat internasional, dan tak melanggar resolusi DK PBB, apalagi sampai mengubah pendirian China soal proliferasi (senjata) nuklir,” kata Hong.

Isu nuklir Iran kembali mencuat pekan ini setelah IAEA mengeluarkan laporan yang berisi beberapa indikasi program nuklir Iran mengarah pada pembuatan bom nuklir dan rudal balistik berhulu ledak nuklir.

Laporan ini memicu polemik soal kemungkinan serangan militer terhadap instalasi nuklir Iran. Akhir pekan lalu, Presiden Israel Shimon Peres mengatakan, serangan militer terhadap Iran makin mendekati kenyataan.

Meski demikian, rencana Israel ini ditentang banyak pihak. Rusia dan Perancis terang- terangan menentang aksi militer, sementara Jerman mengingatkan, gagasan serangan militer ke Iran hanya akan memperkuat Pemerintah Iran.

Dampak tak terduga

Terakhir, Menteri Pertahanan AS Leon Panetta pun memperingatkan risiko besar jika aksi militer dilancarkan. Menurut Panetta, serangan militer tak menjamin akan benar-benar menghentikan program nuklir Iran, melainkan hanya memundurkan progres program tersebut ke titik tiga tahun ke belakang.

Selain itu, serangan militer ini juga bisa menimbulkan berbagai dampak yang tak diperhitungkan sebelumnya. ”Dampaknya bisa sangat serius terhadap kawasan (Timur Tengah), termasuk terhadap pasukan AS di kawasan itu,” papar Panetta, Kamis.

Walau demikian, Panetta tetap tak menghapus kemungkinan serangan militer sebagai opsi terakhir saat semua jalan sudah buntu. ”Harapan saya, kita tidak akan mencapai titik itu, dan Iran akan memutuskan menjadi bagian dari keluarga internasional,” tutur mantan Direktur CIA ini.

Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Mark Toner, AS sedang mempertimbangkan menerapkan sanksi ekonomi yang lebih kuat kepada Iran.(AP/Reuters/AFP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau