KASHGAR, KOMPAS.com - Serasa hidup ribuan tahun silam. Barangkali itu gambaran perasaan yang bisa dilukiskan ketika menelusuri lorong-lorong di kota tua (old city) di Kashgar, Provinsi Xinjiang, China.
Kota tua itu bukanlah kota mati, sehingga bukan sekadar situs sejarah. Di kota tua yang luasnya sekitar 2.000 meter persegi itu, dihuni sekitar 10.000 penduduk. Tak keliru bila diibaratkan sebagai museum hidup, yang jejaknya bisa ditelusuri hingga masa awal-awal Masehi.
Posisi kawasan itu pun tak sama dengan jalan dan permukiman modern di kota itu. Letaknya lebih tinggi sekitar 15-20 meter di atas jalan raya.
Itulah warisan etnis Uyghur, yang populasinya di Kashgar mencapai 90 persen. Mereka adalah pemeluk Islam di Xinjiang.
Bangunan kuno itu dibangun dari campuran tanah liat dan jerami. Untuk yang renovasi menggunakan semen, sehingga kekuatan bangunan lebih terjamin. "Di sini jarang hujan, jadi bangunan tak mudah rusak," ujar Murad, staf pemerintah setempat yang menjadi pemandu di kota tua itu.
Lorong-lorong yang lebarnya mulai 1 meter hingga 2,5 meter itu terhubung satu dengan lainnya. Jalan-jalan di lorong itu dilapisi konblok. Tapi ada dua jenis konblok. Konblok yang persegi enam adalah jalan-jalan yang saling terhubung, sedangkan yang persegi empat merupakan tanda jalan buntu.
Jalan-jalan itu hanya bisa dilewati sepeda motor atau sepeda motor yang punya bak gandengan di belakangnya. Di antara lorong itu di bagian atasnya banyak bangunan tempat tinggal. Mirip bangunan pertokoan jembatan di Glodok, Pondok Indah, dan lain- lain.
Namun penyangga yang dibentangkan di antara dua sisi jalan itu, hanyalah kayu-kayu utuh alias berupa balok. Tak ada besi atau baja. Lalu pondasinya adalah tanah liat yang dicampur jerami dan papan.
Di bangunan serba kotak yang lebih mirip arsitektur Timur Tengah itu, hanya terlihat pintu-pintu rumah warga. Tampak kayunya sudah tua-tua. Jangan heran bika ada rumah yang berlantai hingga enam.
"Umumnya orang-orang kaya," ujar Kadreya, staf kantor pariwisata Kashgar.
Kashgar adalah kota paling barat di China yang di masa silam merupakan jalur sutra (silk road). Dari Beijing, ibu kota China, ditempuh sekitar lebih enam jam perjalanan menggunakan pesawat terbang.
Tentu harus transit di kota Urumqi, ibu kota Xinjiang. Dan, itu artinya perjalanan akan lebih lama.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang