JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Natsir Mansyur menyambut baik diturunkannya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 6 persen melalui Rapat Dewan Gubernur BI, pada Kamis (10/11/2011) lalu. Hanya saja, ia meragukan penyesuaian kebijakan itu di perbankan nasional dalam hal suku bunga kredit, bisa cepat terlaksana.
"Bagi saya, penurunan BI Rate itu bagus-bagus saja. Tapi, yang menjadi masalah di bank pelaksana kadang terlambat penyesuaian suku bunga kreditnya," ujar Natsir kepada KOMPAS.com, di Jakarta, Jumat (11/11/2011).
Menurut dia, hal yang menjadi penyebab lambatnya pelaksanaan itu adalah biaya dana yang ditanggung (cost of fund) tiap bank berbeda. Karena itu, bank lambat merespons penurunan suku bunga acuan BI. Ditambah lagi, rata-rata perbankan nasional kurang berani berhadapan dengan bisnis-bisnis berisiko.
Kemungkinan, penyesuaian suku bunga kredit yang lambat ini juga diakui oleh ekonom Aviliani. Kepada KOMPAS.com, Sabtu (12/11/2011), ia mengatakan, langkah BI menurukan suku bunga acuan sudah tepat. Tapi, lanjut dia, suku bunga kredit memang tidak serta-merta bisa langsung turun menyusul kebijakan itu.
"Problemnya di bank, (yakni) perebutan dana khususnya oleh bank-bank kecil," kata Aviliani.
Menurut dia, bank besar bisa menetapkan suku bunga kredit sebesar 5,75 persen. Tapi, bank kecil hanya bisa menerapkan suku bunga kredit sekitar 8 persen sebagai upaya mendapatkan dana. Apalagi, lanjut dia, belum ada jaminan tentang risiko yang dihadapi perbankan.
Ia menambahkan, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian seharusnya mempunyai benchmark risiko industri dan perdagangan.
"Ini (benchmark) akan mengurangi premium risiko," tambah dia.
"BI sudah tepat, cuma di sini perbankan tidak bisa langsung menyesuaikan," tegasnya.
Sebagai solusi, Natsir Mansyur ikut menambahkan, kalau bisa bank-bank kecil yang biasanya menerapkan suku bunga kredit tinggi bisa dimerger. Selain itu, ia juga berharap skema-skema pembiayaan dari perbankan bisa bervariasi atau ada spesialisasi bank untuk pembiayaan tertentu.
"Perbankan dalam negeri kita sendiri masih bank gado-gado atau bank supermaket. Ada kredit investasi, konsumtif," kata Natsir.
Untuk itu, ia menginginkan agar setiap bank bisa fokus ke satu pembiayaan, misalnya saja, satu bank fokus pada pembiayaan infrastruktur, bank lain fokus kepada pembiayaan pangan.
"Supaya dalam pemberdayaan subsidi dalam jangka panjang jelas," tegas dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang