Myrna Ratna
Konsep rumah idealnya sederhana saja. Harus ada ruangan di mana ”saya bisa sesuka-sukanya”.
Rumah Faisal Basri masih lengang pada Sabtu (5/11) pagi itu. Kami menunggu di terasnya yang asri, dipenuhi rimbunan tanaman hijau.
Ada anthurium, aglaonema, adenium, lidah mertua, dan banyak lagi. Suara gemercik air datang dari jambangan air mancur yang diletakkan di sisi tangga masuk.
Setelah membuka pintu utama, Faisal berjalan ke arah dapur, mengambil gelas yang sudah tersedia di atas meja dan menenggak perasan jeruk nipis tanpa gula. Sejenak ia mengernyitkan dahinya, pasti karena rasa asam.
”Saya setiap hari minum ini. Katanya, sih, bagus untuk pencernaan. Setelah sejam, baru boleh makan yang lain-lain,” katanya.
Di dalam rumah pun terasa sepi. ”Saya benar-benar sedang sendirian. Istri dan anak-anak sudah berangkat ke Surabaya. Ada kerabat yang menikah. Mereka berangkat tadi pagi,” kata Faisal.
Sekilas ia menunjukkan kamar anak-anaknya di lantai atas. Lantai itu memang menjadi area privat, yang terdiri dari deretan kamar tidur dan satu ruangan ”milik” Faisal, ruang kerjanya. ”Ini ruangan favorit saya karena di sini satu-satunya tempat saya boleh merokok,” katanya.
Ruang kerja itu merangkap perpustakaan pribadinya. Seluruh dindingnya tertutup rak buku. Meskipun ruangan ini sudah cukup luas, toh masih belum cukup untuk menampung koleksi bukunya. Sebagian koleksinya masih disimpan di kantornya, sebagian lagi di Perbanas, dengan jumlah yang kira-kira sama banyak dengan yang ada di ruang kerjanya. Kini, koleksinya mulai merambah area lantai. Di situ bertumpuk buku, makalah, majalah, kertas-kertas, juga koper kecil yang siap angkat jika harus bertugas ke luar kota.
Bukannya Faisal tak pernah berusaha untuk membenahi koleksinya. Sebagian dari deretan buku-bukunya memiliki label, misalnya saja HB.136.835.1993. ”HB itu untuk buku-buku makroekonomi. Kategorisasi ini saya buat sendiri, mengikuti perpustakaan Amerika. Dulu, saya rajin memberi label setiap buku saya. Sekarang sudah tidak sanggup.
Faisal biasanya mulai bekerja di ruangan ini setelah ketiga anaknya, Anwar Ibrahim Basir (16), Siti Nabila Azuraa Basri (14), dan Mohamad Atar Basri (10), berangkat tidur. ”Setiap hari, saya mempersiapkan bahan kuliah atau menulis untuk kolom sampai jam 2 atau jam 3 pagi. Setelah subuh, saya tidur lagi,” ujar Faisal yang mengajar di Universitas Indonesia, Depok, dan Universitas Tanjung Pura, Pontianak. Ia juga menjadi Ketua Dewan Penasihat Indonesia Research end Strategic Analysis (IRSA).
Jendela-jendela besar di ruang kerjanya menghadap ke area sekitar Jalan Ciasem, Kebayoran Baru, Jakarta, yang asri dan tenang, dengan deretan rumah beserta tamannya yang tertata apik. Pohon-pohon rindang yang usianya sudah puluhan tahun menaungi jalan yang sepi. Kicau burung terdengar dari jendela yang terbuka lebar.
”Tak terbayangkan saya bakal punya rumah di sini.
Rumah menjadi isu penting ketika anak-anaknya sudah masuk sekolah pada awal tahun 2000. ”Kami tinggal di Cijantung, sementara anak-anak sekolah di kawasan Cipete. Mereka pulang dan pergi sekolah kena macet berjam-jam. Kalau pulang sekolah, wajah mereka sangat lelah. Saya dan istri
Sebetulnya, saat itu, Faisal dan istrinya, Syafitrie (46), sedang membangun rumah di Bambu Apus. Pembangunan itu sudah berlangsung setengah jalan. Fondasi dan struktur bangunan sudah ”naik”. Bahkan, kayu jati yang dikumpulkan dari Bojonegoro sudah siap dijadikan kusen. ”Tapi, karena keputusan tadi, proses pembangunan ini terpaksa kami tinggalkan. Kami rugi banyak sekali. Uang di tangan saat itu hanya tinggal Rp 170 juta,” kata Faisal.
Syafitrie kemudian berburu rumah selama berbulan-bulan. Dan, ketika Faisal diajak untuk melihat-lihat
Salah seorang teman Faisal yang seorang pengusaha bersedia untuk menalangi dulu sebesar Rp 1 miliar sambil menunggu rumah Faisal di Cijantung dan tanah di Bambu Apus terjual. Sisanya ia pinjam dari bank. ”Cicilan ke bank ini baru selesai tahun lalu. Pokoknya perjuangannya panjang,” katanya sambil tertawa.
Konsep rumah ini terbuka. Semua ruangan bisa melihat ke arah halaman. Furnitur dan barang yang ada pun hanya yang esensial. Di ruang tamu, misalnya, hanya terlihat seperangkat sofa dan sebuah televisi.
”Televisinya dikasih teman. Biasalah, teman-teman saya itu kalau mau pindah rumah, barang-barangnya
Selain ruang kerja pribadinya, ruang lain di rumahnya yang paling sering dimasuki adalah ruang belajar bersama. Di ruangan itu, semua anggota rumah memiliki meja sendiri, lengkap dengan perangkat komputer. Maklumlah, ada peraturan bersama bahwa televisi, telepon seluler, laptop, dan
Dari pemilihan rumah, arsitektur, sampai penataan interior dan pilihan tanaman hias, Faisal 100 persen menyerahkan kepada sang istri. ”Saya cuma meminta satu ruang di mana saya bisa sesuka-sukanya. Kalau saya ikut campur, bisa-bisa nanti jadi sumber pertengkaran. Jadi, untuk urusan rumah, saya
Gemercik air juga terdengar dari teras belakang yang dihiasi kolam kecil berisi ikan koi. Meja kayu dan bangku panjang di pinggir kolam menjadi tempat pertemuan kala sarapan pagi, sebelum anak-anak berangkat sekolah.
Faisal mengaku selalu kangen anak-anaknya. ”Besok saya menyusul mereka ke Surabaya, setelah jadi khatib (shalat Idul Adha) di Tanjung Priok,” kata Faisal.
Anaknya yang tertua kini telah menginjak kelas III SMA dan tak lama lagi akan meninggalkan rumah untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
”Saya
Faisal membuka pintu gerbangnya. Siang itu, ia bersiap menemui warga Jakarta Selatan, mencari dukungan sebagai calon independen gubernur DKI Jakarta 2012-2017.