69 Galaksi Hiperaktif Ditemukan

Kompas.com - 13/11/2011, 20:32 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com — Astronom menemukan 69 galaksi kerdil hiperaktif dengan teleskop antariksa Hubble. Galaksi-galaksi itu berjarak sekitar 9 miliar tahun cahaya dari Bumi. Galaksi tersebut membentuk bintang dengan sangat cepat sehingga populasi bintangnya akan menjadi 2 kali lipat dalam 10 juta tahun. Sebagai perbandingan, Bimasakti butuh waktu 1.000 kali lebih lama.

Tim astronom dengan Harry Ferguson dari Space Telescope Science Institute (STScI) sebagai co-author dalam penelitian menemukan galaksi kerdil tersebut lewat proyek Cosmic Assembly Near-earth Deep Extragalactic Legacy-Survey (CANDELS). Penemuan galaksi kerdil itu sangat mengejutkan. Pasalnya, selama ini diyakini bahwa pembentukan bintang berlangsung lambat dan memakan waktu lama.

"Penemuan CANDELS yang menunjukkan adanya galaksi-galaksi yang ukurannya hampir sama membentuk bintang dengan sangat cepat pada masa awal semesta memacu kita untuk mengevaluasi sekali lagi apa yang kita pikir sudah kita ketahui tentang evolusi galaksi kerdil," kata Ferguson seperti dikutip Space.com, Sabtu (12/11/2011).

Galaksi-galaksi yang ditemukan memiliki ukuran 100 kali lebih kecil dari Bimasakti. Galaksi kerdil sebenarnya umum di alam semesta dan astronom percaya bahwa pembentukan bintang yang cepat adalah salah satu hal penting dalam evolusinya. Astronom berharap bisa mempelajari lebih lanjut tentang gelaksi-galaksi kerdil itu.

Hingga kini, sebab pembentukan bintang yang cepat di galaksi itu masih misteri. Simulasi komputer yang dibuat bahwa pembentukan di galaksi kerdil berlangsung dalam beberapa episode. Pertama, ada gas yang mendingin dan collaps membentuk bintang. Beberapa bintang meledak menghasilkan panas dan gas, tetapi akhirnya gas mendingin lagi dan membentuk bintang.

Arjen van der Wel dari Max Planck Institute for Astronomy di Heidelberg Jerman, pimpinan proyek CANDELS, mengungkapkan, "Meski prediksi teoritis itu bisa jadi petunjuk pembentukan bintang di galaksi ini, ledakan yang terjadi lebih intens dari yang direproduksi oleh simulasi."

Ferguson mengatakan, teleskop antariksa James Webb yang akan diluncurkan 2018 nanti mungkin bisa menjawab misteri itu. Hasil penelitian ini akan dipublikasikan di Astrophysical Journal yang akan terbit dalam waktu dekat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau