Koleksi Yod Yoko Terinspirasi Banjir Thailand

Kompas.com - 14/11/2011, 11:04 WIB

KOMPAS.com - Keprihatinan terhadap bencana banjir di Thailand ternyata bisa diwujudkan dalam berbagai hal. Sirus Tantiyapong, desainer label Yod Yoko, mengungkapkan keprihatinannya akan bencana tersebut dengan permainan warna untuk koleksi terbarunya. Untuk pertama kalinya, Sirus memamerkan koleksinya dalam sesi Thai Young Designer Show di Jakarta Fashion Week 2012.

"Untuk koleksi ini saya tidak terlalu memikirkan tren dunia, hanya mengikuti keinginan saya kemudian berkreasi sesuai imajinasi saya," beber Sirus Tantiyapong dalam perbincangan khusus dengan Kompas Female, di sela Jakarta Fashion Week 2012 di Pacific Place, Jakarta Selatan, Minggu (13/11/2011) lalu.

Untuk Yod Yoko, Sirus menyiapkan berbagai busana ready to wear, termasuk busana untuk sehari-hari, busana pesta, bahkan gaun pengantin. Sampai saat ini, Yod Yoko sudah menjadi brand yang cukup digandrungi oleh perempuan Thailand dan bahkan Indonesia.

"Banyak orang Indonesia ketika ke Bangkok datang dan membeli berbagai karya saya, dan menawarkan saya untuk masuk ke dunia fashion Indonesia. Ternyata lokasi serta kebudayaannya yang nyaris sama membuat style fashion-nya tak jauh berbeda," ujarnya. Latar belakang inilah yang akhirnya menjadi obsesinya untuk segera membuka butik di Indonesia.

Pria berusia 28 tahun ini mengaku mendapatkan inspirasi untuk rancangannya berdasarkan mood dan kondisi sekitarnya. Tema Water Scape yang diangkatnya untuk pagelaran busana kali ini, misalnya, diperoleh setelah Sirus melihat banjir Thailand, dimana gelombang air tersebut menciptakan refleksi berbagai warna dalam air. Terlihat ekspresi warna yang lebih berani dalam balutan semua karyanya, seperti vermillion red, metalic gold, hitam, dan off white. Sebagian besar merupakan motif tabrak warna dan abstrak.

Ia merancang koleksi busananya dalam siluet yang longgar, agar para penggunanya bisa mudah bergerak. Meski demikian nuansa elegan dan kasual juga masih terasa pada setiap sentuhan gaunnya, dengan padu padan warna yang didominasi warna cerah. Dengan mengusung gaya Modern Artistic Experimental Craft, Sirus juga memilih untuk tak terlalu ribet dengan jenis jahitan yang rumit. Hampir semua koleksi busananya dihadirkan dengan model terusan yang simpel dan longgar.

Agar terasa nyaman, Sirus menggunakan bahan-bahan alami berkualitas yang ada di Thailand, seperti silk satin, silk chiffon, organza silk, dan Thai silk. "Semua pewarnaan kain ini dilakukan dengan hand painted," tambahnya.

Bahan dan teknik pewarnaan ini dipilihnya untuk menghasilkan kesan kain yang melambai dan ringan saat digunakan. Sirus tak terlalu banyak menambahkan aksesori agar warna dan model bajunya terlihat simpel dan lebih menonjol.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau