JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah sempat diduga melakukan upaya pembersihan barang bukti, sikap manajemen Shy Rooftop kembali dikritik terkait kasus tewasnya siswa SMA Pangudi Luhur (PL), Raafi Aga Winasya Benjamin (17). Kuasa hukum yang ditunjuk Ikatan Alumni PL, Allova Mengko, mengaku prihatin dengan ketidakpedulian manajemen saat Raafi jatuh bersimbah darah.
"Yang kami kecewakan, setelah almarhum roboh yang angkut keluar adalah kawan-kawannya pakai kendaraan salah satu kawan Raafi. Tidak ada sekuriti atau waitress yang bantu," ungkap Allova, Senin (14/11/2011), saat dihubungi wartawan.
Allova mengatakan, saat peristiwa terjadi Raafi tengah merayakan ulang tahun temannya bersama 20 teman lainnya. Saat Raafi jatuh tersungkur, lima orang teman langsung mengevakuasi Raafi ke rumah sakit. Sementara sisanya, masih tinggal di lokasi.
"Dari teman-teman Raafi yang ada di lokasi itu tahu kalau acara tidak langsung berhenti. Lampu di Shy Rooftop juga tidak langsung dinyalakan," kata Allova.
Menurut Allova, logikannya, ketika ada peristiwa perselisihan antar pengunjung pihak manajemen atau pun sekuriti seharunys melihat apa yang terjadi. Apalagi, kalau sampai ada korban yang jatuh bersimbah darah.
"Kami juga soroti, pihak manajemen tidak melakukan pemeriksaan atau body check. Padahal, kejadian pertengkaran di kelab-kelab itu kan lazim terjadi. Harusnya ada antisipasi," ujarnya.
Seperti diberitakan, siswa kelas III SMA Pangudi Luhur, Raafi Aga Winasya Benjamin (17) tewas ditusuk orang tak dikenal pada Sabtu (5/11/2011) dini hari di Shy Rooftop, Kemang, Jakarta Selatan. Peristiwa itu diduga terjadi pada pukul 02.00-03.00 WIB. Tetapi, pihak kepolisian baru tiba pada pukul 03.30 WIB setelah mendapat informasi dari masyarakat.
Ketika tiba, kepolisian tidak menemukan bercak darah di lantai karena sudah dibersihkan sebelumnya. Raafi juga sudah tidak ada di lokasi karena langsung dibawa ke rumah sakit oleh teman-temannya. Selain Raafi, rupanya ada seorang siswa PL yang mengalami luka tusuk di bagian lengan yakni Jian. Jian diyakini mengetahui ciri-ciri orang yang diduga sebagai pelaku.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang