Pembelian BBM Dibatasi Maksimal 75 Liter

Kompas.com - 14/11/2011, 17:51 WIB

MUKOMUKO, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, secara tertulis mengimbau agar empat stasiun pengisian bahan bakar umum di daerah itu membatasi pengisian penjualan maksimal 75 liter untuk setiap kendaraan umum dan pengecer bahan bakar.

"Hari ini imbauan tertulis dari pemerintah setempat kepada pihak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) telah diserahkan, untuk dipatuhi agar tidak terjadi kelangkaan BBM," kata Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Mukomuko Hanif di Mukomuko, Senin (14/11/2011).

Imbauan tertulis agar SPBU membatasi pengisian BBM itu ditandatangani oleh Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Mukomuko BM Hafrizal, dengan tembusan pihak Kepolisian resort setempat dan pihak Pertamina Bengkulu.

Setelah keluarnya imbauan secara resmi dan diserahkan kepada pihak SPBU, maka saat itu pengawasan kepada SPBU akan dilakukan. "Mulai saat ini kami sudah mulai melakukan pengawasan, meskipun tidak rutin dilakukan," kata dia menambahkan.

Untuk menghindari kemungkinan timbul gejolak akibat pembatasan BBM dari pegadagang pengecer, pihaknya menyarankan, agar SPBU menggunakan jasa kepolisian dalam melakukan pengamanan selama proses pelayanan pengisian BBM. "Pihak SPBU bisa meminta bantuan dari kepolisian untuk jaga-jaga saat melayani pengisian BBM," kata dia.

Sebelumnya Bupati Mukomuko Ichwan Yunus menyatakan, pihaknya terpaksa mengambil kebijakan pembatasan bahan bakar minyak bagi kendaraan maupun pengecer jeriken sampai bahan bakar tidak lagi langka di daerah itu.

"Sampai semua kondisi kelangkaan bahan bakar berakhir, mobil dan motor dibatasi mengisi bahan bakar, sedangkan jeriken tidak boleh diisi dulu," kata Ichwan Yunus.

Sejak putusnya jalan yang menghubungkan Provinsi Bengkulu dengan Provinsi Sumatera Barat, pasokan BBM dari Sumatera Barat untuk tiga SPBU di daerah itu menjadi terganggu.

Agar kebutuhan BBM di daerah ini tetap terpenuhi, pemerintah setempat telah mengirimkan surat secara resmi kepada pihak Pertamina Bengkulu, agar pasokan BBM didatangkan dari Pertamina Bengkulu.

"Permintaan BBM didatangkan dari Pertamina Bengkulu awalnya lisan, tetapi setelah itu permintaan kita sampaikan secara resmi diketahui oleh pemerintah provinsi dan kepolisian daerah setempat," kata dia.

Dalam permintaan itu, kata dia, pemerintah setempat tidak saja supaya dilakukan pengalihan sementara pasokan BBM, tetapi jumlah kebutuhan untuk daerah ini sesuai dengan pengiriman yang dilakukan dari Pertamina dari Sumatera Barat. "Kita minta BBM untuk daerah ini tidak dikurangi dan sesuai kebutuhan, agar tidak terjadi kelangkaan," kata dia.

Dalam kondisi BBM langka saat ini, Bupati berharap pihak keamanan bisa melakukan penjagaan dan memastikan tidak terjadi penimbunan.

"Kalau harga BBM yang tiba-tiba naik ditingkat pedagang eceran itu sudah biasa, namanya saja hukum ekonomi kalau barang kurang tentu saja harga akan menjadi naik," ujarnya.

Ditempat terpisah Asisten II Setkab Mukomuko Khaidir Anwar mengatakan, kebutuhan BBM setiap hari untuk daerah ini sebanyak 14 ribu. "Bensin 14 Ribu liter per hari begitu juga solar sebanyak 14 ribu liter per hari," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau