1 dari 10 Penduduk Sakit Diabetes di Tahun 2030

Kompas.com - 15/11/2011, 06:32 WIB

Kompas.com - Federasi Diabetes International memprediksi sedikitnya 1 dari 10 orang dewasa akan menderita diabetes di tahun 2030. Jumlah tersebut naik dari data tahun ini yang menyebutkan 1 dari 13 orang dewasa menderita diabetes.

Menurut laporan terbaru yang dikeluarkan bertepatan dengan peringatan hari diabetes internasional (14/11) ini, disebutkan 552 juta orang akan menderita diabetes dalam dua dekade mendatang, baik yang terdiagnosa atau pun tidak.

Kenaikan jumlah penderita ini terjadi secara global, bahkan di Afrika yang penyakit infeksi masih jadi persoalan utama diperkirakan terjadi peningkatan penderita diabetes sampai 90 persen.

Menurut WHO, saat ini di seluruh dunia terdapat 346 juta penderita diabetes, di mana 80 persennya terjadi di negara berkembang. WHO juga menyebutkan jumlah tersebut akan naik dua kali lipat di tahun 2030 sesuai perkiraaan federasi diabetes internasional.

"Jumlah peningkatan ini adalah angka yang kredibel, tetapi terbukti atau tidak kami belum bisa mengatakannya," kata Gojka Roglic, ketua unit diabetes WHO seperti dikutip kantor berita Associated Press.

Ia menjelaskan, kenaikan jumlah penderita lebih disebabkan karena faktor penuaan daripada epidemi obesitas. Kebanyakan kasus adalah diabetes tipe dua dan mayoritas diderita orang berusia pertengahan. Penyakit ini berkaitan erat dengan kegemukan dan gaya hidup sedentari.

"Penyakit ini mengkhawatirkan karena diabetes adalah penyakit serius dan memperpendek usia. Tetapi itu tidak perlu terjadi jika kita mengambil langkah pencegahan," paparnya.

Usia produktif

Di Indonesia menurut data Riset Kesehatan Dasar 2007 terdapat 14 juta (5,4 persen) penduduk yang menderita diabetes. Sementara itu diketahui 10 persen penduduk mengalami pradiabetes yang akan berkembang menjadi diabetes dalam 5 tahun mendatang jika tidak diintervensi.

"Dulu diabetes adalah penyakit orang lanjut usia, tapi kini banyak menyerang orang muda bahkan remaja. Jika gula darahnya tidak terkontrol di usia produktif mereka bisa kena serangan jantung atau harus cuci darah," kata dr.Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD, di Jakarta (14/11).

Untuk meningkatkan tatalaksana diabetes, menurut dr.Budiman Darmo Widjojo, Sp.PD, dokter-dokter umum terus dilatih untuk menanangi diabetes melitus.

"Yang diutamakan adalah dokter puskesmas atau dokter keluarga karena mereka adalah garda terdepan pelayanan kesehatan. Mereka dilatih untuk menatalaksana, termasuk dalam pemberian obat dan edukasi pasien," kata Ketua Jakarta Diabetes Meeting 2011.

Ia menjelaskan, tujuan utama dari tatalaksana diabetes adalah mengendalikan kadar gula darah. "Kalau terkendali maka risiko komplikasi akan bisa dihindari," paparnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau