Cara Baru Menjadi Indonesia

Kompas.com - 15/11/2011, 06:42 WIB

Oleh Risman A Rachman

Masuknya Pulau Komodo sebagai salah satu dari tujuh pemenang sementara dalam  ajang New7Wonders of Nature menambah satu lagi cara rakyat untuk menjadi Indonesia.

Sebelumnya, hanya baru ada dua cara untuk menjadi Indonesia seutuhnya, yakni melalui kekompakan melawan penjajahan dan kedua melalui kekompakan membantu daerah yang terkena bencana tsunami dan konflik Aceh.

Kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan puncak perayaan dari kekompakan segenap rakyat dari semua daerah yang berhasil mengakhiri penjajahan atas segenap tumpah darah yang kemudian kita sebut Indonesia.

Semua daerah baik yang sudah dikuasai oleh penjajah, atau daerah yang terbebas dari penjajahan, atau daerah yang masih terus melakukan perlawanan sengit terhadap penjajah dengan sangat kompak bersatu untuk menjadi bangsa Indonesia yang beridentitas Pancasila.

Sayangnya, jika semua rakyat Indonesia bisa kompak dan memberi dukungannya untuk melawan penjajah  yang berakhir dengan perayaan kemerdekaan Indonesia maka kekompakan rakyat belum terjadi untuk yang namanya pembangunan Indonesia. Sebaliknya, pembangunan justru semakin mengikis jadi diri bangsa sebagai manusia Pancasila.

Ragam kejahatan terhadap kemanusiaan, ragam pengrusakan terhadap "surga alam Indonesia" (sda) terus berlangsung dari waktu ke waktu. Semua ini terjadi karena mentalitas dari penyelenggara pembangunan Indonesia tidak lagi berlandaskan spirit Pancasila. Akibatnya, kekompakan seluruh rakyat Indonesia tidak terbangun dan tidak menjadi modalitas bangsa untuk mencapai cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Maka sangat bisa dimaklumi manakala ada banyak daerah yang kemudian memilih untuk melawan dan memberontak karena tidak lagi memiliki harapan untuk menjadi manusia Indonesia yang kompak untuk meraih satu cita-cita yakni cita-cita Indonesia.

Masing-masing daerah melalui mereka yang duduk sebagai penyelenggara pembangunan Indonesia hanya kompak untuk kemajuan daerahnya atau lebih ekstrem lagi hanya untuk membangun kemegahan dan kekuatan pusat kekuasaan.

Kemanusiaan dan Perdamaian

Sebenarnya, segenap rakyat Indonesia sangat mudah kompak untuk yang namanya Indonesia. Banyak bukti yang bisa disebutkan, salah satunya untuk kasus Aceh.

Rakyat Indonesia semua kompak dan menunjukkan solidaritas dan dukungan kemanusiaan yang tinggi kala Aceh dilanda bencana tsunami. Dukungan ini pada akhirnya menjadi salah satu modal kemanusiaan bagi lahirnya perayaan perdamaian di Aceh yang juga disambut dengan antusias dari segenap rakyat Indonesia.

Aceh, yang tadinya dicurigai oleh sebahagian kecil akan lepas dari Indonesia akibat politik kompromi justru berwujud menjadi daerah yang memperkaya makna kebhinnekaan Indonesia dalam sisi demokrasi. Jika dulu kebinnekaan hanya dikenali dari sisi budaya saja misalnya tapi kini kebinnekaan juga terlihat dari sisi politik dan demokrasi. Meski begitu tetap bhinneka tunggal ika.

Penutup

Dari ketiga cara untuk menjadi Indonesia itu secara kebetulan dua diantaranya terdapat peran besar dari Jusuf Kalla. Jusuf Kalla yang dibantu oleh berbagai pihak dan mendapat support dari presiden dalam berbagai bentuk menjadi aktor kunci dalam rehabilitasi, rekontruksi paska bencana tsunami dan rekonsilisasi perdamaian di Aceh.

Sekarang pun, Jusuf Kalla menjadi salah satu aktor kunci dalam kampanye Taman Nasional Komodo yang akhirnya menjadi salah satu New7Wonders of Nature atau tujuh keajaiban dunia untuk kategori alam. Meski baru kemenangan sementara namun semua ini menjadi bukti betapa kita masih bisa menjadi Indonesia yang juga bertolak dari semangat kebersamaan sebagai manusia Indonesia.

Akankah ada inisiator atau pemimpin muda dari kalangan rakyat Indonesia yang akan mampu menggerakkan kekompakan segenap rakyat untuk mendukung pembangunan Indonesia menuju cita-cita kemerdekaan Indonesia pada 2014? Atau, sang pemimpin itu masih tetap bernama Jusuf Kalla yang dulu sempat digelar The Real President?

* Penulis adalah pengamat sosial politik di Aceh

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau