Mahasiswa PNG Belajar Bahasa di Papua

Kompas.com - 15/11/2011, 07:22 WIB

JAYAPURA, KOMPAS.com — Puluhan mahasiswa Universitas Papua Niugini (PNG) mengunjungi Papua untuk mendalami Bahasa Indonesia.

Asisten II Bidang Pembangunan dan Ekonomi Provinsi Papua Elly Loupatty, di Jayapura, Senin (14/11/2011), mengatakan, kedatangan mahasiswa Universitas PNG bertujuan untuk belajar Bahasa Indonesia sebagai bagian dari tugas belajar.

"Ada beberapa jurusan yang datang ke Papua. Mereka senang belajar Bahasa Indonesia. Untuk itu, mereka memilih ke Papua guna mendalaminya sebagai bagian dari tugas belajar," katanya.

Sementara kedatangan mereka ke Pemerintah Provinsi Papua adalah untuk menyampaikan tujuan mereka ke Papua. Para mahasiswa PNG akan berada di Papua hingga 23 November 2011 guna mendalami Bahasa Indonesia secara baik.

"Mereka akan ke Universitas Cenderawasih untuk belajar. Banyak hal yang mereka tanyakan, mulai dari pendidikan tingkat SD hingga SMA, perguruan tinggi, termasuk wawasan mahasiswa Papua tentang Indonesia," jelasnya.

Menurut Elly, kedatangan mahasiswa PNG ke Papua (Indonesia) merupakan hal baik karena sebagai pergaulan antarbangsa. Untuk itu, pemerintah daerah sangat menyambut baik tujuan mereka.

Dia mengatakan, mahasiswa PNG berkeinginan bekerja secara nasional. Untuk itu, mereka senang untuk belajar Bahasa Indonesia.

"Mudah-mudahan mereka tidak hanya belajar bahasa saja. Para mahasiswa PNG merasa kaget dengan suasana di Papua. Salah satunya kesibukan kerja masyarakat Kota Jayapura dan sekitarnya. Mereka senang melihat masyarakat Papua yang sibuk bekerja," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Provinsi Papua James Modouw menjelaskan, kegiatan Bahasa Indonesia yang ada di PNG merupakan kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah PNG, yang kemudian keluar melalui atase pendidikan dan kebudayaan yang ada di Kedutaan Besar Indonesia di negara itu.

Hal ini juga tercantum dalam kerja sama perbatasan antara Provinsi Papua dan PNG. Kemudian Universitas Cenderawasih ditugaskan secara periodik bergantian datang ke Universitas PNG untuk mengajar Bahasa Indonesia.

Selain itu, anak-anak PNG juga ada yang mendapat beasiswa dari Pemerintah Indonesia, yaitu dalam bentuk kerja sama di bidang pendidikan.

"Kerja sama ini sudah ada sejak lama dan banyak dari pertanyaan mereka adalah bagaimana bisa membuat seseorang itu rajin bekerja dan mempunyai keahlian teknis. Kami sudah jelaskan, pendidikan bukan formal saja, jadi sektor informal juga harus tumbuh. Di PNG, saya lihat sektor informal tidak begitu didorong untuk dikembangkan oleh sebab itu banyak mereka melihat orang tidak bekerja," katanya.

Menurut James, selama di Papua, puluhan mahasiswa PNG akan mengujungi dua sekolah, yakni SMA III Buper Waena dan SMA V Angkasa, Jayapura. Namun, mereka akan lebih banyak akan mengunjungi Universitas Cenderawasih karena mereka adalah mahasiswa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau