Ini Lho, Tempat Berburu Keramik Murah di Bogor!

Kompas.com - 15/11/2011, 18:42 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Bagi yang berminat berburu ubin keramik berharga murah, sebaiknya datang ke sentra ubin keramik Cikuda Wanaherang, di Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Di sana terdapat 20 pedagang ubin keramik yang menjual produk-produknya dengan harga miring.

Untuk mencapai lokasinya tidaklah sulit. Pedagang ubin keramik tersebut berjajar di sisi kanan dan kiri jalan Cikuda Wanaherang. Jalan ini merupakan akses utama yang menghubungkan Kecamatan Gunung Putri dan Kecamatan Cileungsi.

Menuju lokasi bisa menggunakan akses jalan Cibubur menuju Cileungsi. Setelah itu, Anda bisa mengambil jalan menuju arah Gunung Putri. Dari Cibubur sampai lokasi setidaknya butuh waktu 20 menit sampai 30 menit dengan kendaraan pribadi.

Saat tiba di lokasi, mata dengan mudah tertuju pada tumpukan ubin keramik dengan beragam motif, jenis dan ukuran. Pedagang ubin keramik di sentra itu memajang dagangan di halaman rumah yang disulap menjadi kios ubin keramik.

Sentra penjualan ubin keramik itu muncul sejak tahun 1990-an. Saat itu warga menampung ubin keramik cacat produksi dari pabrik yang ada di sekitar Cikuda Wanaherang. Setelah diperbaiki, ubin keramik itu dijual lagi di lokasi yang kini dikenal sebagai sentra ubin keramik Cikuda Wanaherang.

Agus, salah seorang pedagang ubin keramik di sentra itu mengaku, dirinya adalah pedagang pertama yang membuka lapak ubin keramik di sentra itu.

"Saya mulai usaha sejak tahun 1992," kata Agus.

Selain Agus, ada Warno dan Rohmat yang juga ikut buka lapak. Dengan adanya lapak, warga dengan mudah memajang dan memasarkan ubin keramik itu. Apalagi, mereka menjual ubin keramik dengan harga miring.

"Karena ramai, banyak warga ikut profesi kami," jelas Agus.

Pedagang ubin keramik di sentra Cikuda Wanaherang itu menjual ubin keramik seharga Rp 23.000 per meter persegi (m2), sedangkan ubin jenis granit dijual mulai Rp 55.000 per m2. Menurut Agus, kehadiran sentra ubin keramik itu membuat ekonomi warga Cikuda Wanaherang membaik.

Sebagian warga yang berbisnis ubin keramik bisa tersenyum karena menikmati laba yang menggiurkan. Namun ada juga pedagang ubin keramik lain yang tersenyum getir karena usaha mereka gagal di tengah jalan.

"Jualan ubin keramik tidak seperti rumus matematika yang punya hitungan pasti, jika usaha dikelola baik bisa sukses, tapi kalau salah kelola bisa rugi, " kata Agus, pemilik kios Sahabat Keramik itu.

Salah satu warga yang tertarik berbisnis ubin keramik itu adalah Rudi Halidi. Pemilik Maura Keramik ini mulai membuka usaha sejak Maret 2011.

"Awalnya, saya berjualan keramik sebagai usaha sampingan, tapi ternyata usaha ini bisa jadi sandaran hidup kami," terangnya.

Walau terbilang baru, usaha Rudi itu berkembang karena ubin keramik yang ia jual menyasar segmen pasar menengah ke bawah.

"Walau kualitas kelas dua, kami menjual dengan harga terjangkau," kata Rudi.

Kini, pasokan ubin keramik pedagang tak lagi datang dari pabrik keramik di Cikuda Wanaherang saja. Banyak pabrik keramik di Bogor dan Karawang ikut memasok ubin keramik kepada para pedagang di Cikuda ini. (Fahriyadi)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau