92 Persen Ikan di Ciliwung Telah Punah

Kompas.com - 15/11/2011, 19:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Biodiversitas atau keragaman hayati di Sungai Ciliwung memprihatinkan. Pandangan ini diungkapkan Dr. Siti Nuramaliati Prijono, Kepala Puslit Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Yang sudah kita lakukan, 92 persen ikan di Ciliwung sudah punah, sementara untuk mollusca 66,7 persen serta bangsa udang dan kepiting juga 66,7 persen," kata Siti, Selasa (15/11/2011).

Hasil penelitian tersebut didapatkan dengan menganalisa biodiversitas Ciliwung tahun 2009 dan membandingkannya dengan koleksi makhluk hidup di Ciliwung yang ada di Museum Zoologi Bogor, merujuk keragaman tahun 1910.

Melihat rentang waktu dari 1910-2009, bisa dilihat bahwa mayoritas jenis-jenis ikan, mollusca serta udang dan kepiting di Ciliwung punah dalam seabad. "Mulai punah itu sejak manusia mulai banyak di sekitar Ciliwung. Lalu karena polusi dari limbah dan Ciliwung yang seperti menjadi tempat sampah terpanjang," katanya.

Salah satu jenis yang punah, kata Siti, adalah lele berukuran besar mirip lele dumbo. Disayangkan sebab jika tidak punah, lele itu bisa menjadi sumber protein bagi masyarakat.

Hingga sejauh ini, LIPI belum melakukan penelitian terhadap organisme lain, seperti bulus, kura-kura dan ular, sehingga belum diketahui penurunan biodiversitas satwa tersebut di Ciliwung saat ini.

Satwa Ciliwung kini banyak mengalami tekanan, salah satunya akibat perburunan manusia untuk mencari bahan makanan. Misalnya, jenis kura-kura dan bulus yang saat ini banyak diambil untuk dikonsumsi.

Seperti dilaporkan sebelumnya, bulus raksasa yang ditemukan di Ciliwung kemarin hampir saja dipotong. Namun, pemotongan gagal karena ada warga yang membeli bulus seharga Rp 300 ribu.

Bulus dan kura-kura dari Ciliwung dilaporkan sering diburu dan hasilnya dijual di restoran sebagai bahan makanan. Penelitian perlu dilakukan sehingga paling tidak upaya pencarian sumber makanan untuk konsumsi bisa mempertimbangkan populasi spesies tertentu di alam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau