Air Baru Surut 2012

Kompas.com - 16/11/2011, 04:11 WIB

bangkok, selasa - Belum ada tanda-tanda banjir di Bangkok, ibu kota Thailand, itu akan segera surut. Apalagi, saat ini kawasan Asia Tenggara telah memasuki musim hujan. Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra, merujuk kondisi yang ada, memperkirakan banjir itu masih akan melanda sebagian ibu kota hingga awal tahun 2012.

Banjir terus mengepung dua kawasan industri di timur Bangkok, Selasa (15/11). Warga dan petugas berjuang membendungnya dengan berbagai cara, terutama memasang barikade karung pasir dan undakan beton.

Menteri Perindustrian Wannarat Channukul menjelaskan, sebagian besar pabrik di daerah yang dilanda banjir sebelumnya akan segera pulih dan beroperasi seperti sediakala. Sekitar 80 persen pabrik manufaktur di Provinsi Ayutthaya mungkin bisa beroperasi lagi bulan depan.

Ayutthaya berada di sebelah utara Bangkok. ”Kami cukup yakin sebagian besar pabrik segera berproduksi lagi pada Desember nanti,” katanya.

Sebaliknya, perdana menteri mengatakan, sebagian kota Bangkok bisa dilanda banjir hingga awal tahun 2012. ”Saya pribadi ingin melihat warga bahagia di Tahun Baru. Namun, saya tidak begitu yakin dengan wilayah barat karena warga sulit mengendalikan banjir,” kata Yingluck ketika ditanya wartawan apakah mungkin banjir terus melanda kota hingga tahun 2012.

Yingluck, adik kandung mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra, juga mengatakan, wilayah Bangkok timur kemungkinan akan bebas dari banjir menjelang akhir tahun. Situasi umum stabil karena banjir mengalir ke laut, namun seberapa cepat banjir mengering tergantung pada kontur setiap daerah,” katanya, Selasa.

Fakta justru berbicara lain. Justru pada Selasa itu banjir mengepung dua kawasan industri di Bangkok timur, yakni Bang Chan dan Lat Krabang. Seri Supharatid, Direktur Pusat Perubahan Iklim Universitas Rangsit, Bangkok, mengatakan, petugas telah berhasil menurunkan ketinggian banjir di industri perkebunan Bang Chan dan Lat Krabang.

”Apa yang kita saksikan sekarang adalah ketinggian air sudah lebih stabil. Meskipun kita tidak dapat mengatakan sudah 100 persen, tingkat risikonya sudah menurun,” kata Seri Supharatid. Namun, dia tidak merinci, berapa pastinya ketinggian air normal jika dibandingkan dengan kondisi darurat.

Banjir di Thailand telah merenggut 562 nyawa sejak medio Juli lalu ketika banjir pertama kali datang. Sekitar 891 pabrik di tujuh kawasan industri di utara Bangkok terendam dan sebagian besar tutup sementara. Mata rantai pasokan dari beberapa perusahaan multinasional terputus.

Akibat lain dari banjir terparah dalam 60 tahun itu adalah 64 dari 77 provinsi telah menderita dilanda banjir setelah berkali-kali badai tropis. Seluruh sektor ekonomi penting rusak diterjang banjir, seperti industri otomotif dan elektronik, termasuk Toyota dan Honda di Jepang serta Samsung di Korea Selatan.

Di kota Bangkok, banjir sudah berlangsung lebih dari satu bulan. Sebanyak 12 dari 15 distrik di Bangkok terendam. Sebanyak tiga distrik yang berada di barat kota paling parah dan hingga kini masih dilanda banjir. Hampir dua juta dari sekitar 12 juta warga kota itu mengungsi.

(AFP/AP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau