Spirit ASEAN di Panggung Mode

Kompas.com - 16/11/2011, 04:59 WIB

Ketika para atlet negara- negara ASEAN beradu prestasi pada ajang SEA GAMES XXVI dan para pemimpinnya bertukar diplomasi dalam KTT ASEAN di Bali, sejumlah desainer dari Asia Tenggara beradu kreasi pada Jakarta Fashion Week 2012.

Empat desainer ASEAN yang dinilai telah memiliki rekam jejak internasional membuka ajang Jakarta Fashion Week JFW yang bertajuk ”Alliance of Beauty”, Sabtu (12/11) malam. Mereka adalah Biyan Wanaatmadja dari Indonesia, Ashley Isham dari Singapura, Bernard Chandran dari Malaysia, dan Saksit Pisalasupongs-Phisit Jognarangsin (Tube Gallery) dari Thailand.

Spirit yang tampil dalam pergelaran mode malam itu adalah spirit kawasan yang mengedepankan aura persahabatan dan kebersamaan. Namun, sulit dihindari, ajang ini juga menjadi kesempatan untuk saling mengintip dan mengukur kekuatan tren mode di setiap negara. Untuk soal ini, Indonesia patut berbangga dengan sumber talenta yang dimiliki. Pekan mode yang akan berlangsung selama sepekan penuh itu menjanjikan masa depan industri fashion Indonesia yang dinamis.

Terlebih itu, dalam wawancara Kompas dengan keempat desainer tersebut, terungkap keyakinan bahwa seluruh perhatian saat ini berpindah dari Barat ke Asia, termasuk Asia Tenggara. Kawasan ini unggul tidak saja karena keunikan kekayaan budayanya, tetapi juga merupakan pasar yang dinamis saat keuangan dunia terguncang. Intinya, desainer Asia Tenggara siap bersaing di pasar internasional.

Tengoklah koleksi Biyan yang malam itu menjadi ”bintang”. Biyan yang koleksi busananya bisa dijumpai di ritel eksklusif di Bangkok, Singapura, dan New York seperti biasa menampilkan rancangan yang elegan, feminin, dan berkelas. Aplikasi kristal, payet, batu, dan mute pada gaun-gaun panjang dan pendeknya menjelma menjadi ”lukisan” yang menyatu ke dalam siluet gaun.

Biyan gembira karena di Indonesia kini bermunculan label baru yang menandakan profesi sebagai perancang busana makin diminati. Meski belum banyak perancang Indonesia yang memasarkan produknya ke luar negeri, Biyan menilai peluang mereka untuk bertahan di dalam negeri cukup besar karena konsumen mode di Indonesia sudah menghargai produk karya perancang lokal. ”Kuasailah pasar lokal terlebih dulu karena ini merupakan modal penting sebelum perancang mengalihkan mata ke pasar internasional,” katanya.

Kaya bahan baku

Desainer Malaysia, Bernard Chandran, yang mewarisi darah China-India menampilkan 12 koleksi musim panas dan musim semi yang bisa dibeli pasar mulai Januari 2012. Karya yang ditampilkan berpotongan simpel, asimetris, sekaligus seksi, dengan bahan polos katun dan sutra berwarna cerah. Bernard mengaku semua koleksinya terinspirasi gaya berpakaian ibunya pada tahun 1950-an. ”Ibuku bukan perempuan kaya, tapi ia bisa tampil modis,” katanya.

Bernard percaya, desainer Asia Tenggara sudah siap bersaing di pasar. Setiap negara di ASEAN punya keunggulan dan kelemahan. Malaysia memiliki desainer andal, tetapi tak memiliki pergelaran mode skala besar. Indonesia dinilai memiliki pasar sangat besar dengan kekayaan bahan baku, seperti batik dan tenun, tetapi rancangannya belum ready to use dalam kehidupan sehari-hari. ”Selain itu, ke depan, desainer dari kawasan Asia Tenggara harus lebih bersatu agar bisa sama-sama menciptakan pergelaran mode yang lebih besar setingkat Asia Tenggara,” ujar Bernard.

Pesona ”Negeri Gajah” terlihat lewat koleksi musim semi dan panas Tube Gallery yang girlie penuh warna cerah. Inspirasi utama dari koleksi gaun cocktail ini, menurut Phisit Jongnarangsing, berasal dari bangunan Royal Pavillion di Brighton, Inggris, yang interiornya penuh warna. Bangunan itu mencerminkan pengaruh kuat kebudayaan China dan India dengan sentuhan khas Eropa. Warna-warna kontras dan berani pada koleksi gaunnya, seperti paduan pink dan kuning atau hijau dan biru laut, menjadi lembut ketika menggunakan materi halus, seperti sutra, sifon, dan georgette. Lipit dan draperi dengan bawahan berpotongan lebar menjadi ciri khas koleksinya.

”Koleksi ini saya persembahkan bagi para perempuan yang gemar berpenampilan maksimal, senang menunjukkan karakternya. Pasar Thailand umumnya lebih suka warna nude, tapi saya tawarkan warna-warni cerah karena pasar fashion Asia Tenggara tengah bergairah,” kata Phisit yang melihat plagiarisme sebagai ancaman serius bagi perkembangan industri mode Asia.

Harus diolah

Pergelaran malam itu ditutup oleh koleksi busana perancang Singapura, Ashley Isham (35), yang anggun, lengkap dengan topi dan hiasan kepala. Koleksinya secara keseluruhan ingin menonjolkan sisi kemodernan perempuan dengan garis rancang yang tajam, tetap feminin, berkelas, dengan nuansa seksi yang sopan. ”Itu semangat utamanya. Saya ingin membuat perempuan semakin cantik. Namun, saya mengutamakan kenyamanan. Busana harus terasa nyaman sehingga kecantikan perempuan keluar dan membuat kecantikannya semakin bersinar. Itu sebabnya, saya menyukai bahan jersey,” ujar Ashley yang memiliki butik di kawasan Timur Tengah, London, Malaysia, Shanghai, dan Beijing.

Ashley melihat banyak perancang muda di ASEAN saat ini memiliki bakat luar biasa. Pergelaran besar seperti JFW amat berguna untuk mengamplifikasi hal itu. Namun, ia mengingatkan, kekayaan budaya bisa menjadi inspirasi sekaligus titik lemah. Untuk bisa menembus pasar internasional, para perancang harus pandai-pandai mengolah kembali unsur budaya lokal yang medok. ”Perlu kepandaian tersendiri untuk mentransformasi unsur etnik menjadi lebih universal sehingga mudah diterima di pasar fashion di belahan dunia mana pun,” katanya.

(MYR/SF/WKM/IYA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau