Ubah Cara Pandang terhadap Warga Papua!

Kompas.com - 16/11/2011, 15:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah harus mengubah cara pandang terhadap warga Papua agar permasalahan berkepanjangan di Papua dapat diselesaikan. Pasalnya, hingga saat ini pemerintah masih memandang miring warga Papua sehingga berbagai permasalahan terus muncul.

Desakan itu disampaikan Wakil Ketua Komnas HAM Rida Saleh, Koordinator Kontras Haris Azhar, dan putra daerah Papua yang juga aktivis Kontras, Dorus Wakum, saat rapat dengar pendapat dengan Komisi I di kompleks Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Rabu (16/11/2011).

Rida menilai, pemerintah selama ini merendahkan warga Papua. Ketika mengatasi permasalah di Papua, pemerintah lebih mengedepankan pendekatan militer dengan pengerahan pasukan. Operasi militer itu menimbulkan banyak kasus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Haris mengatakan, pemerintah memandang diskriminatif warga Papua. "Semua orang Papua dipandang separatis," kata Haris. Akibatnya, tidak ada kepercayaan warga Papua terhadap pemerintah.

Penilaian senada disampaikan Dorus. "Tidak ada penghargaan martabat manusia Papua dari pemerintah termasuk penghormatan HAM. Pemerintah selalu menganggap kami orang terpinggir. Tolong anggap kami sebagai manusia yang bermartabat," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau