Jakarta, Kompas
”Pesawat nirawak tersebut masih dalam tahap penyempurnaan. Tahun depan (pesawat itu) sudah ditargetkan membantu proses pemetaan Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, yang sekarang diubah menjadi Badan Informasi Geospasial),” kata Iskendar, Pelaksana Harian Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa, Rabu (16/11), di sela pembukaan Pameran Innovation Expo 2011 di Jakarta.
Pesawat nirawak BPPT hasil penelitian tahun 2000-2005 tersebut menghasilkan 10 prototipe dengan tiga model yang diberi nama Pelatuk, Gagak, dan Wulung. Pesawat itu dapat dikendalikan dari jarak 40 kilometer hingga 60 kilometer, terbang sampai pada ketinggian 1.000 meter.
Pesawat tersebut dirancang secara otopilot untuk kembali ke landasan semula. Pesawat menggunakan mesin ”Limbach” buatan Jerman, berbahan bakar pertamax plus dengan kapasitas 40 liter. Saat uji coba, untuk terbang selama 1 jam dibutuhkan bahan bakar sekitar 9 liter.
Pesawat nirawak dengan model Gagak dirancang untuk bergerak lincah dengan suara mesin yang diredam, sehingga lebih cocok untuk fungsi pengintaian suatu kawasan. Model Wulung dan Pelatuk memiliki kemampuan terbang lebih stabil, sehingga cocok untuk pemotretan atau perekaman video.
”Pesawat nirawak BPPT belum siap dikomersialkan. Produk ini belum mencapai tingkat kesiapan untuk inovasi, di antaranya karena kendala keterbatasan dana,” kata Iskendar.
Secara terpisah, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, saat ini sangat dibutuhkan teknologi yang lebih ekonomis untuk mendukung pemetaan kawasan bencana. BNPB sudah menghubungi BPPT dengan produk risetnya, pesawat nirawak, untuk menunjang pengambilan foto kawasan- kawasan yang dilanda bencana, tetapi belum mampu disediakan.
”Pengambilan gambar atau foto untuk pemetaan lokasi bencana akhirnya menggunakan pesawat dengan awak, yang menggunakan dana lebih besar,” kata Sutopo.
Deputi Kepala BPPT Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi Tatang A Taufik mengatakan, rekayasa BPPT sebenarnya sudah didorong untuk merekayasa berdasarkan kerja sama untuk pemanfaatannya sejak awal.