Teknologi kebencanaan

BPPT Kembangkan Pesawat Nirawak

Kompas.com - 17/11/2011, 05:47 WIB

Jakarta, Kompas - Pesawat nirawak atau tanpa awak untuk merekam data dengan kamera bermanfaat untuk pemetaan kawasan saat bencana terjadi. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sedang mengembangkannya.

”Pesawat nirawak tersebut masih dalam tahap penyempurnaan. Tahun depan (pesawat itu) sudah ditargetkan membantu proses pemetaan Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional, yang sekarang diubah menjadi Badan Informasi Geospasial),” kata Iskendar, Pelaksana Harian Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa, Rabu (16/11), di sela pembukaan Pameran Innovation Expo 2011 di Jakarta.

Pesawat nirawak BPPT hasil penelitian tahun 2000-2005 tersebut menghasilkan 10 prototipe dengan tiga model yang diberi nama Pelatuk, Gagak, dan Wulung. Pesawat itu dapat dikendalikan dari jarak 40 kilometer hingga 60 kilometer, terbang sampai pada ketinggian 1.000 meter.

Pesawat tersebut dirancang secara otopilot untuk kembali ke landasan semula. Pesawat menggunakan mesin ”Limbach” buatan Jerman, berbahan bakar pertamax plus dengan kapasitas 40 liter. Saat uji coba, untuk terbang selama 1 jam dibutuhkan bahan bakar sekitar 9 liter.

Pesawat nirawak dengan model Gagak dirancang untuk bergerak lincah dengan suara mesin yang diredam, sehingga lebih cocok untuk fungsi pengintaian suatu kawasan. Model Wulung dan Pelatuk memiliki kemampuan terbang lebih stabil, sehingga cocok untuk pemotretan atau perekaman video.

”Pesawat nirawak BPPT belum siap dikomersialkan. Produk ini belum mencapai tingkat kesiapan untuk inovasi, di antaranya karena kendala keterbatasan dana,” kata Iskendar.

Dibutuhkan BNPB

Secara terpisah, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, saat ini sangat dibutuhkan teknologi yang lebih ekonomis untuk mendukung pemetaan kawasan bencana. BNPB sudah menghubungi BPPT dengan produk risetnya, pesawat nirawak, untuk menunjang pengambilan foto kawasan- kawasan yang dilanda bencana, tetapi belum mampu disediakan.

”Pengambilan gambar atau foto untuk pemetaan lokasi bencana akhirnya menggunakan pesawat dengan awak, yang menggunakan dana lebih besar,” kata Sutopo.

Deputi Kepala BPPT Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi Tatang A Taufik mengatakan, rekayasa BPPT sebenarnya sudah didorong untuk merekayasa berdasarkan kerja sama untuk pemanfaatannya sejak awal.

(NAW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau