Pengamat: Gus Dur Sosok Pelintas Sekat Sosial

Kompas.com - 17/11/2011, 12:23 WIB

SLEMAN, KOMPAS.com--Pengamat politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta Surya Adi Permana menilai Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan tokoh atau sosok pelintas batas berbagai sekat sosial di masyarakat.

"Sosok Gus Dur yang mengalir apa adanya ini semakin menguatkan dirinya sebagai sosok pelintas batas berbagai sekat di masyarakat, termasuk di dunia militer," katanya pada diskusi dan bedah buku "Gus Gerr" Bapak Pluralisme dan Guru Bangsa di Fisipol Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Rabu.

Menurut dia, sosok Gus Dur sebagai pelintas batas sudah ditunjukkan baik jauh sebelum menjadi Presiden maupun setelah diturunkan dari posisi orang nomor satu di Indonesia.

"Gus Dur bisa berbaur dengan berbagai kalangan, baik lintas suku, budaya, agama, etnis, dan berbagai kelompok politik. Saat Orde Baru, Gus Dur juga mampu menjadi mediator berbagai kalangan meskipun dirinya juga banyak mengkritisi Soeharto," katanya.

Ia mengatakan, selain itu pada saat banyak orang mulai tidak simpati dengan kalangan militer, Gus Dur justru menjalin kedekatan dengan Jenderal Wiranto yang saat itu menjabat Panglima TNI.

"Gus Dur juga dianggap sebagai sosok netral oleh berbagai kelompok dan kalangan, ini terbukti saat Pemilihan Presiden 1999, Gus Dur menjadi tokoh yang dinilai dapat diterima berbagai kalangan sehingga namanya dimunculkan sebagai penengah dari dua kubu," katanya.

Surya mengatakan, dalam kepemimpinannya Gus Dur merupakan sosok yang berani mengambil sikap tegas jika itu dianggapnya benar. "Berbenda dengan pemimpin negara yang lebih banyak ragu-ragu dan tidiak tegas," katanya.

Penulis buku "Gus Gerr" Bapak Pluralisme dan Guru Bangsa Maftuhah Hamid mengatakan Gus Dur tidak hanya ada bagi para pendukungnya, namun bicara tentang Gus Dur tidak bisa lepas dari sebuah peradaban.

"Apa yang ada pada Gus Dur bukan hanya sekedar bagi para pendukungnya, tetapi masa depan bangsa Indonesia, dialah anak bangsa yang mencurahkan hidup, pemikiran dan tindakannya untuk perbaikan peradaban masa depan," katanya.

Ia mengatakan, Gus Dur memiliki keteladanan dalam perjuangan membela kelompok-kelompok yang terpinggirkan atau kaum minoritas yang ada dalam keragaman bangsa ini.

"Gus Dur salah satu tokoh bangsa yang berjuang paling depan melawan radikalisme agama, ketika radikalisme sedang kencang-kencangnya bertiup, Gus Dur menantangnya dengan berani," katanya.

Menurut dia, buku yang ditulisnya sengaja dikemas dengan cerita lucu sebagaimana pribadi Gus Dur yang juga suka humor dan lucu.

"Seperti Gus Dur yang selalu menyelipkan ’joke’ atau sentilan-sentilan yang lucu sehingga membuat pendengarnya tertawa," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau