Lebong Masih Butuh Transmigrasi

Kompas.com - 17/11/2011, 12:59 WIB

TUBEI, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Lebong merasa masih perlu mendatangkan warga transmigrasi untuk mempercepat proses pembangunan daerah. Meski demikian, keinginan tersebut harus melalui perencanaan yang matang karenanya belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Transmigrasi Dinas Sosial, Tenaga Kerja, Transmigrasi, Kependudukan, dan Catatan Sipil Kabupaten Lebong Dwi Purnamasari, Kamis (17/11/2011).

Dwi mengatakan, Pemkab Lebong sulit mencari calon lahan untuk transmigrasi mengingat sekitar 70 persen wilayah Lebong yang merupakan hutan. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan yang matang sebelum membuka lokasi transmigrasi.

Di samping itu, untuk menghindari kegagalan perlu dipikirkan bentuk transmigrasi seperti apa yang cocok agar berdampak positif pada percepatan pembangunan daerah.

Saat ini, Lebong telah memiliki dua lokasi transmigrasi, yakni di Desa Tik Sirong, Kecamatan Topos (100 KK) dan di Desa Pelabai, Kecamatan Pelabai (200 KK). Akan tetapi, akibat perencanaan yang tidak matang kedua transmigrasi ini bermasalah.

Salah satu masalahnya ialah samapai sekarang warga transmigrasi belum menerima lahan usaha II seluas satu hektar per keluarga. Padahal transmigran di Pelabai telah menempati lokasi sejak 2008 dan 2009 dan transmigran di Tik Sirong sejak akhir 2010.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau