Harga turun

Petani Bawang Merah Diimbau Simpan Hasil Panen

Kompas.com - 17/11/2011, 22:02 WIB

BREBES, KOMPAS.com - Menghadapi anjloknya harga bawang merah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada musim panen kali ini, Pemkab Brebes mengimbau para petani untuk menyimpan hasil panen mereka terlebih dahulu. Mereka bisa menjualnya saat harga bawang merah mulai membaik.

Harga bawang merah di Brebes saat ini anjlok hingga Rp 3.500 per kilogram, sehingga mengakibatkan petani merugi. Hal seperti itu , misalnya, dialami para petani di Kecamatan Larangan, Brebes, dan Wanasari.

Kepala Bidang Agribisnis, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Brebes, Gatot Rudiono, Kamis (17/11/2011), mengatakan, anjloknya harga bawang diperkirakan karena panen di Brebes berlangsung bersamaan dengan panen di wilayah Jawa Timur dan Jawa Barat.

Panen bersamaan itu merupakan dampak mundurnya musim tanam, dari seharusnya bulan Juli menjadi September. Apabila bulan Juli para petani di Brebes mulai tanam, mereka akan panen pada bulan September.

Saat itu, daerah-daerah lain di Indonesia belum banyak yang panen, sehingga harga bawang merah masih tinggi. Namun musim tanam mundur hingga September, karena ketersediaan air kurang memadai.  

Menurut Gatot, saat ini luas tanaman bawang di Brebes yang memasuki masa panen sekitar 3.000 hektar. Panen berlangsung bertahap, rata-rata sekitar 200 hektar per hari. "Jadi pasokan terus ada," katanya.

Oleh karenanya, petani diimbau menyimpan hasil panen mereka terlebih dahulu, untuk menghindari kerugian. Terlebih lagi saat ini intensitas hujan belum tinggi, sehingga bawang masih bisa dikeringkan secara sempurna.

Gatot memperkirakan, akhir tahun ini harga bawang akan naik, karena bersamaan dengan Hari Raya Natal dan Tahun Baru. Sementara itu, sejumlah petani mengaku kesulitan menyimpan hasil panen mereka, karena tidak memiliki modal memadai.

Sarimin (52), petani di Desa Sidamulya, Kecamatan Wanasari, Brebes, mengatakan, petani terbebani utang pupuk, obat-obatan, dan bahan bakar mesin pompa air, untuk modal tanam lalu. Oleh karena itu, mereka harus tetap menjual hasil panen, untuk menutup utang-utang tersebut.

Sarimin yang mengolah sawah seluas seperempat bau (sekitar 1.800 meter persegi), mengaku memiliki utang untuk modal tanam Rp 3 juta. Secara keseluruhan, modal usaha yang dikeluarkannya pada musim tanam lalu mencapai Rp 10 juta.

Karena saat ini harga bawang merah anjlok, harga penjualan bawang dengan sistem tebas (pembelian langsung di sawah) juga anjlok. Bawang di lahan seperempat bau (sekitar 1.800 meter persegi), yang sebelumnya bisa terjual Rp 14 juta, saat ini hanya terjual sekitar Rp 8 juta. "Sekarang petani sedang hancur," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau