Keputusan 10 negara anggota ASEAN disampaikan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Kamis (17/11), seusai rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-19 ASEAN yang dibuka pagi harinya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Selain keputusan tentang Myanmar, KTT ASEAN juga menelurkan sejumlah kesepakatan. Salah satunya adalah penandatanganan Deklarasi Bali tentang Komunitas ASEAN dalam Komunitas Global Negara-negara atau Bali Concord III.
Kehadiran para kepala negara membuat kawasan Nusa Dua,
Menurut Marty, sembilan kepala negara lain mengakui terjadi perubahan signifikan di Myanmar jika dibandingkan dengan setidaknya setahun lalu. Momentum tersebut harus dipertahankan, apalagi Myanmar berkomitmen menjadikan proses itu tak dapat ditarik mundur lagi.
”Keputusan itu justru menempatkan negeri itu di bawah sorotan masyarakat internasional. Hal itu akan memastikan apakah sepanjang tahun 2011 sampai 2014 mereka betul-betul meneruskan perubahan yang sekarang dirintis,” ujar Marty.
Keputusan itu tak semata didasari yang mereka lihat tahun ini, tetapi sebagai harapan agar Myanmar menjadi lebih baik tahun 2014. ”Semua akan mengawasi persiapan yang mereka lakukan menuju keketuaannya itu, bukan hanya persiapan fisik dan infrastruktur, melainkan juga soal jadi apa dan bagaimana nantinya negeri itu,” lanjut Marty.
Penasihat senior Presiden Myanmar bidang hukum pemerintah, Sit Aye, saat dicegat wartawan, menyatakan bahwa keputusan itu sangat berarti bagi negaranya. ”Ya, tentunya akan ada lebih banyak lagi proses reformasi. Dalam kadar tertentu sekarang sudah terjadi dan terus berlanjut. Anda akan melihat itu pada masa mendatang. Soal pembebasan tahanan politik, kami juga sudah melakukan banyak kemajuan,” ujar Sit Aye.
Dukungan terhadap Myanmar datang dari banyak pihak. Kepada Kompas saat ditemui di tempatnya menginap di Hotel Conrad Benoa, Bali, Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra menyatakan, negaranya mendukung Myanmar menjadi ketua ASEAN 2014.
”Dari hasil kunjungan saya ke Myanmar beberapa waktu lalu, kami lihat banyak kemajuan di sana. Dari sudut pandang Thailand, kami mendukung Myanmar mengetuai ASEAN. Kami juga mendukung proses
Dalam pidato pembukaan KTT Ke-19 ASEAN, Presiden Yudhoyono mengawali dengan menyampaikan keprihatinan dan duka mendalam terkait bencana banjir yang melanda beberapa negara anggota ASEAN. Musibah itu menimbulkan kerugian harta benda dan ratusan korban jiwa. Bantuan serta uluran tangan telah diberikan ASEAN sebagai bentuk dan wujud solidaritas sesama anggota.
Yudhoyono menyebutkan, pemilihan Bali sebagai penyelenggara KTT adalah untuk mengingatkan sejarah ASEAN tentang pencapaian dan kemajuan positif yang dicapai di lokasi tersebut. Dimulai dari tahun 1976 tentang kesepakatan penggunaan cara-cara damai dan kerja sama antar-anggota ASEAN (Treaty of Amity and Cooperation) yang dikenal dengan Bali Concord I. Dilanjutkan dengan Bali Concord II tahun 2003, saat ASEAN menghasilkan tiga pilar menuju Komunitas ASEAN 2015.
Presiden mengingatkan, ajang ini digelar bersamaan dengan transformasi besar di dunia, seperti di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Dunia pun dihadapkan pada ancaman krisis ekonomi global baru, yang menghasilkan kondisi tidak pasti pada perekonomian dunia. ”Namun, di tengah pancaroba itu banyak harapan justru ditumpukan ke kawasan kita. Sejarah membuktikan dan menguji ASEAN menjadi semakin matang dan mampu menciptakan stabilitas dan keamanan kawasan sekaligus meningkatkan kekuatan ekonomi sendiri,” tutur Yudhoyono.
Selain Bali Concord III, sebagai langkah menuju Komunitas ASEAN 2015, ditandatangani juga pembentukan Pusat Koordinasi ASEAN untuk Bantuan Kemanusiaan dan Manajemen Bencana (AHA Center) dan Deklarasi Kesatuan ASEAN dalam Perbedaan Budaya.
Pengamanan ketat dilakukan di sekitar Bali Nusa Dua Convention Center, lokasi KTT ASEAN, dan Bandara Ngurah Rai. Pengunjung yang memasuki kawasan Nusa Dua wajib mengenakan tanda pengenal. Pengamanan semakin ketat saat Presiden Obama tiba. Setiba di Bandara Ngurah Rai, Obama disambut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Duta Besar Indonesia untuk AS Dino Patti Djalal, Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel, dan Gubernur Bali Made Mangku Pastika.
Landasan bandara sudah dikosongkan sekitar 30 menit sebelum pesawat Obama mendarat. Setelah roda pesawat menyentuh landasan, pesawat diiringi dua mobil hingga ke tempat parkir. Penumpang Sriwijaya Air yang hendak masuk ke pesawat dari bus yang membawa mereka sempat terhenti sejenak.
Sekeluar dari pintu pesawat, Obama tersenyum sambil melambaikan tangan. Ia sempat berbincang dengan para pejabat yang menjemput sebelum masuk kendaraan yang membawanya ke Nusa Dua.