JAKARTA, KOMPAS.com - Sebuah layar berukuran 3 x 2 meter dipajang menutupi gang utama RT 11 RW 03 Kampung Pulo, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Kamis (17/11/2011) malam. Di depan layar, terpal dan tikar dibentangkan untuk menjadi alas duduk warga Kampung Pulo dalam acara nonton bareng pertandingan sepakbola Indonesia vs Malaysia.
Menjelang pukul 19.00, jumlah orang yang berkumpul di sekitar lokasi tersebut semakin besar. Layar raksasa dan lokasi acara pun tampak semakin sempit di tengah kepungan ratusan warga RT 09, RT 10, RT 11, dan RT 14. Semuanya datang dengan satu tujuan, memberi dukungan pada Timnas U23 Sepakbola Indonesia.
Sorak sorai hingga hujatan silih berganti diteriakkan dengan ramai oleh warga yang telah sembilan bulan berstatus korban banjir. Ketegangan di antara mereka seakan lebih tinggi dibanding tensi pertandingan Indonesia-Malaysia yang berlangsung di Gelora Bung Karno.
Namun, situasi selalu bisa dicairkan oleh peran pemandu acara sekaligus komentator pertandingan. Ibu Pupung, ibu rumah tangga yang menjadi komentator dadakan, tampak begitu awam tentang sepakbola sehingga hanya dua nama pemain yang sempat disebutnya: Okto (Maniani) dan Egy (Melgiansyah). Itu pun baru terjadi pada babak kedua saat kedua punggawa Timnas U-23 itu masuk sebagai pemain pengganti.
"Itu harus kartu kuning. Pemain Malaysia-nya keterlaluan," kata Si ibu .
"Wah, wasitnya enggak adil, kok enggak dikasih kartu sih," sambungnya setelah sebuah pelanggaran penyerang Malaysia kepada penjaga gawang Indonesia tidak diganjar kartu kuning oleh sang pengadil pertandingan.
Warga lainnya terbahak-bahak mendengar ocehan si komentator, meskipun tadi banyak juga penonton yang meneriakkan hal yang sama.
Riuh rendah teriakan terus meliputi suasana penonton mengikuti sepak terjang para pemain Indonesia. Lebih dari 90 menit pertandingan seakan berjalan cepat bagi mereka yang duduk memunggungi rumah yang sedang terendam banjir.
Walaupun cuma sesaat, warga merasa puas atas hiburan dan kebersamaan mereka. Selama 2 x 45 menit waktu pertandingan mereka bisa melupakan ancaman banjir yang bisa meninggi setiap saat. "Senang bisa santai sebentar. Kalau dipikirin terus kami bisa stres," kata Ny Wagiyo (54).
Tampak hadir di tengah penonton Wanda Hamidah, anggota DPRD DKI bersama Tim Jakarta Bergerak. Hadir juga beberapa pegiat LBH Jakarta dan PBHI melakukan advokasi pada warga.
"Kami ingin tunjukkan bahwa nasionalisme tidak hanya di Gelora Bung Karno. Nasionalisme masih dimiliki warga korban banjir," komentar Wanda Hamidah.
Sejak Maret 2011, permukiman warga RT 09, 10, 11, 12, dan 14 seakan tak pernah sepi dari banjir. Warga sampai menyebutnya sebagai musim ketiga, selain musim hujan dan kemarau. Menurut sejumlah warga, situasi ini berlangsung sejak pengerjaan gorong-gorong yang menutupi aliran sungai di sepanjang lapangan tembak kompleks Marinir, Cilandak.
Selain mempersempit aliran kali, bentuk gorong-gorong yang semakin menyempit di bagian ujung juga dianggap warga menghambat aliran air. Alhasil, setiap hari permukiman warga, khususnya di RT 11 tak lepas dari rendaman air bercampur lumpur dan sampah.
Hingga saat ini, belum terlihat adanya solusi penanganan yang tepat. Pemerintah pun tampak lepas tangan atas pembongkaran gorong-gorong yang disebut sebagai solusi jangka pendek.
"Hidup Indonesia, normalisasi kali," teriak para warga seusai pertandingan yang dimenangkan Malaysia. Sebuah ungkapan yang menunjukkan kecintaannya kepada negara dan bangsa ini sekaligus teriakan untuk meminta perhatian yang sama dari pihak negara.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang