JAKARTA, KOMPAS.com — Muhammad Fikriansyah Apriano, salah satu korban pesawat Cessna 172 yang jatuh di daerah Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (16/11/2011) lalu, dikenal memiliki semangat tinggi dalam belajar. Hal itu dibuktikannya dengan berhasil menempuh sekolah penerbangan di umurnya yang masih belia.
"Dia kebetulan masuk SD umur lima tahun. Dia punya semangat dan kemauan, cerdas sih enggak," ujar Mahisya, perwakilan keluarga korban kepada Kompas.com, Jumat (18/11/2011).
Mahisya menuturkan, Ryan, yang baru berumur 18 tahun itu memang bercita-cita jadi penerbang.
"Dia (Ryan) sering tanya-tanya sama omnya yang pilot dan kakeknya yang pernah jadi teknisi penerbang," ujarnya.
Putra sulung dari empat bersaudara pasangan Andriana Neti Pertiwi dan M Amin itu baru saja menyelesaikan masa studinya di sekolah Nusa Flying Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Namun, karena masih kekurangan jam terbang, Ryan harus memenuhi kuota terbangnya yang ditetapkan pihak sekolah. Naasnya, pesawat yang ditumpangi beserta instruktur dan seorang siswa lainnya kehilangan kontak sejak Rabu (16/11/2011) pagi.
"Dia itu baru diwisuda Selasa. Biar sudah wisuda, tetapi kalau masih menyisakan jam terbang, ya, harus diselesaikan," ujar Mahisya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pesawat Cessna 172 yang ditumpangi instruktur Partogi Sianipar serta dua siswa M Fikriansyah dan Agung Febrian kehilangan kontak saat menuju Cirebon. Hingga berita ini diturunkan, tim SAR dibantu pihak terkait belum menemukan titik terang lokasi pesawat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang