Disdik Belum Terima Laporan Buku Salah Ketik

Kompas.com - 18/11/2011, 20:52 WIB

BANTUL, KOMPAS.com - Dinas Pendidikan Dasar Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, belum menerima laporan buku paket Pancasila yang dikabarkan terdapat kesalahan ketik dalam isi buku itu.

Kepala Dinas Pendidikan Dasar Bantul, Sahari di Bantul, Jumat mengatakan, pihaknya belum menerima laporan tersebut, namun jika benar-benar terbukti, akan segera melaporkan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

"Kalau memang buku itu benar-benar tidak layak beredar di kalangan siswa ya sebaiknya ditahan dulu, namun kami belum bisa menginstruksikan karena kami belum menerima laporan itu," katanya.

Ia mengatakan, sesuai mekanisme jika terdapat buku paket yang salah cetak memang akan dievaluasi, dan selanjutnya akan dipertimbangkan matang-matang kalau benar-benar tidak sesuai harus diambil langkah selanjutnya.

"Kalau itu dari pusat, ya... harus dikomunikasikan dengan pusat terlebih dulu, dan apakah nanti kesalahan cetak apakah harus diperbaiki atau tidak itu juga kewenangan pusat," katanya.

Menurut dia, kabar kesalahan ketik pada buku Pancasila untuk sekolah dasar itu diakuinya dari surat kabar, namun bukan langsung dari sekolah yang memang menerima buku itu. "Bukunya saja belum tahu, kita tunggu laporannya," katanya.

Sebelumnya, Kepala Sekolah Dasar Ringinharjo, Bantul, Suyitno mengatakan, 12 buku ajar berjudul "Pancasila Negaraku, Bhinneka Tunggal Ika Semengatku" terdapat kesalahan pada sila keempat di mana kata ’kebijaksanaan’ tidak ada sama sekali.

Ia mengatakan, sila keempat pancasila yang berbunyi ’Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’ itu yang seharusnya tertulis di dalam isi buku ajar itu.

"Seharusnya kata-kata ’kebijaksanaan’ itu ada dalam sila keempat, namun dalam buku pancasila itu tidak ada, bahkan kesalahan yang sama juga terdapat pada halaman 9,10,24 dan 82," katanya.

Menurut dia, buku salah ketik cetakan PT Caraka Sentosa Abadi karangan Valentina Rian Prastiwi itu kiriman dari Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikbud, yang diterimanya sejak 9 November 2011.

Ia menilai, buku tersebut bisa berakibat fatal jika dibiarkan beredar di kalangan siswa, karena tidak sempurna menjadikan salah tafsir, sehingga pihaknya berharap buku tersebut ditarik dan diperbaiki.

"Kami akan berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan Dinas Pendidikan Dasar segera, ini kan bahaya untuk anak-anak, untungnya ini buku untuk perpustakaan jadi tidak akan saya serahkan dulu," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau