JAKARTA, KOMPAS.com — Hilangnya pesawat jenis Cessna 172 milik sekolah penerbangan Nusa Flying Internasional School menimbulkan penyesalan tersendiri bagi keluarga Muhammad Fikriansyah Apriliano alias Ryan (18), salah satu awak pesawat yang sampai saat ini belum ditemukan.
Kerabat Ryan, Mahisya, mengatakan bahwa Ryan sebetulnya tidak dijadwalkan terbang pada Rabu (16/11/2011) lalu. Rencana penerbangan menuju Cirebon tersebut sebetulnya dijalani oleh rekan Ryan yang bernama Bintang.
"Sebenarnya itu bukan schedule-nya Ryan (untuk terbang). Namun karena temannya terjebak macet, temannya telepon ke Ryan, mending Ryan saja yang terbang," ujar Mahisya.
Mahisya mengatakan tidak ada firasat apa pun sebelum musibah itu terjadi. "Hanya saja dia kok tumben enggak banyak omong, kan biasanya cerita," ujarnya. Status BlackBerry Messenger Ryan terakhir kali bertuliskan, "Dangerous is my bussines."
Sebelum peristiwa terjadi, sulung dari empat bersaudara tersebut mengatakan kepada Mahisya bahwa dia ingin melanjutkan sekolah lagi setelah selesai sekolah penerbang. Ia juga ingin membantu sepupu-sepupunya yang kurang mampu.
"Dia punya target, 25 tahun ke atas baru dia ingin memikirkan keinginannya sendiri," kenang Mahisya.
Pesawat jenis Cessna 172 yang diterbangkan Ryan merupakan pesawat milik sekolah penerbangan Nusa Flying Internasional School di Halim Perdanakusuma, Jakarta. Pesawat berangkat dari Jakarta dengan perkiraan tiba di Cirebon pukul 09.00 WIB.
Pesawat tersebut hilang kontak sejak pukul 08.19 WIB dan hingga pukul 15.00 WIB belum ada kejelasan soal keberadaan pesawat. Pesawat tersebut ditumpangi tiga orang, terdiri dari instruktur bernama Partogi Sianipar (25) dan dua siswa penerbang, yakni Muhammad Fikriansyah (18) dan Agung Febrian (30). Hingga berita ini diturunkan, 12 tim gabungan masih mencari keberadaan pesawat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang