Kejahatan

Kapolres: Seminggu Lagi Pecahkan Kasus Raafi

Kompas.com - 19/11/2011, 05:07 WIB

Jakarta, Kompas - Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Imam Sugianto meminta waktu satu minggu lagi untuk menyelesaikan penyelidikan dan penyidikan kasus terbunuhnya siswa SMA Pangudi Luhur, Jakarta, Raafi Aga Winasya Benyamin (17). Ia masih menunggu hasil penyidikan forensik atas barang bukti yang diserahkan kepada penyidik Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri.

”Mudah-mudahan dalam wak- tu satu minggu ke depan, kami sudah bisa membuat persoalan ini jadi terang,” ujar Imam. Itu dikatakan seusai menghadiri pertemuan Kepala Polda Metro Jaya dengan tujuh perwakilan organisasi kemasyarakatan di sebuah restoran di Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (18/11) siang.

Menurut Imam, tim penyidiknya sudah melakukan gelar perkara terakhir pada Kamis malam lalu. Mereka mendalami kembali keterangan tambahan dari saksi pihak pelajar SMA Pangudi Luhur, Jakarta. Selanjutnya, tim penyidik minggu depan akan mendalami keterangan orang yang saat prarekonstruksi berada dekat dengan korban atau berdiri di depan korban.

”Pendalamannya didukung penjelasan dari hasil penyidikan laboratorium forensik tentang bahan-bahan dari pakaian dan benda-benda yang sudah kami kirim ke sana,” ujarnya.

Ia melanjutkan, dalam proses penyidikan kasus tewasnya Raafi, tim penyidik tidak mendapat tekanan dari pihak mana pun, yang mencoba menghentikan atau memengaruhi hasil penyidikan. Kendala yang dihadapi tim penyidik adalah ketidakterbukaan saksi dalam memberi keterangannya sehingga rangkaian kejadian malah janggal.

”Para saksi tidak mau terbuka dalam memberi informasi, itu sah-sah saja. Teman melindungi teman. Para siswa Pangudi Luhur pun mengaku tidak tahu dan tidak kenal dengan pelaku penusuk korban,” katanya, dan memastikan mereka yang saling melindungi teman itu tidak dapat dikenai pidana.

Ditanya ketegasannya bahwa sebetulnya saksi dari kedua belah pihak yang berkelahi tahu siapa pelaku penusuk Raafi dan tidak terbuka memberi keterangan karena saling melindungi teman, Imam menjawab, iya. ”Yang masih tidak terbuka memberi keterangan, kedua belah pihak.”

Soal hasil analisis rekaman CCTV yang disita polisi dari Kafe dan Bar Shy Rooftop, Imam mengatakan, rekaman itu masih belum selesai proses analisisnya.

”Hasilnya tidak signifikan untuk mendukung penyidikan sebab rekaman itu tidak menjangkau semua sudut di lokasi kejadian. Sekarang tengah dianalisis hasil rekaman dari CCTV di luar kafe,” katanya.

Juru bicara tim advokasi Brawijaya IV, tim pengacara yang mewakili 20 siswa SMA Pangudi Luhur yang menjadi saksi, Allova Mengko meminta pihak kepolisian fokus mencari pelaku pembunuhan. ”Kami menghargai pihak kepolisian yang kini penyelidikannya telah mengerucut pada beberapa orang dan mungkin tinggal menunggu pembuktian akhir,” ujarnya. (RTS/NEL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau