Pemimpin asean

Yingluck Memesona

Kompas.com - 19/11/2011, 06:23 WIB

Selain Barack Obama, kepala pemerintahan negara peserta KTT Asia Timur yang ditunggu-tunggu wartawan di Nusa Dua, Bali, adalah Yingluck Shinawatra, Perdana Menteri Thailand yang baru tiga bulan menjabat. Ada berbagai hal menarik mengenai Yingluck yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

Yang pertama tentu saja kecantikannya. Tidak hanya karena dia adalah satu-satunya perempuan di antara 10 kepala negara/kepala pemerintahan negara anggota ASEAN, tetapi karena Yingluck memang memiliki kecantikan khas Thailand dan postur tubuh yang menyerupai seorang foto model.

Ada rasa ingin tahu yang lebih untuk melihat penampilannya selama KTT, seperti baju model apa yang akan ia kenakan saat mengikuti sidang-sidang KTT yang melelahkan, model rambut apa yang akan ia pilih, gaun malam apa yang akan ia pakai saat menghadiri gala dinner, dan berbagai hal lain, yang sekilas terlihat sepele tetapi memancing rasa ingin tahu orang.

Seperti hari Jumat (18/11), hari kedua ia berada di Nusa Dua, model rambutnya sudah berbeda dengan hari pertama. Saat menghadiri pembukaan KTT Ke-19 ASEAN, Kamis, rambut panjang Yingluck dibiarkan tergerai dengan sedikit dijepit di bagian atas demi kerapian. Pada hari kedua, Yingluck memilih menggelung rambutnya.

Tentu saja, menilai dan mengagumi seseorang hanya dari penampilan luarnya akan menjadi sangat tidak adil. Yingluck juga menarik karena berbagai pencapaiannya. Ia adalah perempuan perdana menteri pertama di Thailand, dan ia meraihnya di usia yang terhitung muda untuk dunia politik, yakni 44 tahun. Bahkan, ia adalah kepala pemerintahan termuda di antara 9 pemimpin negara ASEAN lainnya.

Banyak orang pada awalnya meragukan kemampuan Yingluck di bidang politik, apalagi untuk memimpin negara sepenting Thailand. Ia sempat dicap hanya bermodal popularitas kakaknya, yang pernah menjadi perdana menteri terpopuler di Thailand, Thaksin Shinawatra.

Namun, semua anggapan itu tak membuat Yingluck gentar dan gamang memimpin Thailand walau cobaan sangat berat langsung menghadang begitu ia dilantik sebagai PM. Banjir terbesar di Thailand dalam 50 tahun terakhir telah merenggut lebih dari 500 jiwa dan merendam sebagian besar wilayah Thailand, termasuk pusat-pusat industri dan pusat warisan budaya dunia. Terakhir, ibu kota Bangkok pun terancam terendam air bah.

Tampil semangat

Yingluck pun tampil memimpin usaha pengendalian banjir dan penyelamatan korban dalam skala besar. Ia bahkan membatalkan perjalanan ke pertemuan APEC di Honolulu, Hawaii, pekan lalu, karena banjir masih mengancam Bangkok.

Toh, ia hadir juga di Nusa Dua. Menurut salah satu anggota staf Kementerian Luar Negeri Thailand, Yingluck baru tiba di hotelnya di kawasan Tanjung Benoa, Bali, Kamis pukul 03.00. Baru dua jam memejamkan mata, ia harus mengikuti taklimat dengan para pembantu terdekatnya tentang berbagai agenda sidang KTT ASEAN hari itu.

Tak heran waktu melayani wawancara dengan beberapa media nasional, termasuk Kompas, Kamis petang, terlihat semburat-semburat kemerahan di matanya. Raut wajahnya juga menyiratkan kelelahan. Namun, di luar dugaan, ia menjawab semua pertanyaan wartawan—termasuk yang tidak termasuk dalam daftar pertanyaan yang diajukan sebelumnya—dengan semangat.

Keramahan—satu ciri Thailand lainnya—Yingluck tak hilang meski waktu sudah sangat sempit saat para wartawan meminta foto bersama. Dia harus bergegas menuju tempat makan malam dan menyelesaikan makan dalam waktu kurang dari satu jam karena sudah ditunggu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk pertemuan bilateral malam itu juga. (DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau