Nasib tki

Keluarga TKI Cegat Mennaker

Kompas.com - 22/11/2011, 23:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Keluarga tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Majalengka, Jawa Barat, Juju Juhana—yang tewas di Arab Saudi, Selasa (22/11/2011) sore, mencegat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar di sela-sela Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Komisi IX DPR, Senayan, Jakarta.

Menurut anggota DPR asal Fraksi PDI Perjuangan Rieke Diah Pitaloka, Selasa malam, keluarga itu kesal lantaran sejak meninggalnya Juju sekitar pertengahan September lalu, hingga kini jenazahnya belum juga dibawa pulang ke Indonesia.

"Juju meninggal dunia karena berusaha melarikan diri dari lantai 3 rumah majikan dengan menggunakan seprei. Ada dugaan Juju meninggal bulan Juni atau hanya dua minggu setelah bekerja. Namun, kematian Juju baru dilaporkan secara resmi pada tanggal 28 September lalu," tutur Rieke.

Ditambahkan Rieke, sebenarnya keluarga sudah memberikan surat permohonan pemulangan jenazah sejak tanggal 3 Oktober silam. Namun, hingga satu bulan ini belum juga ada informasi kepastian kepulangan jenazah Juju.

"Oleh sebab itu, pada tanggal 22 November 2011, keluarga Juju bertemu langsung dengan Muhaimin Iskandar, di sela rapat dengar pendapat umum (RDPU) di Komisi IX. "Muhaimin berjanji akan segera memulangkan jenazah Juju dan membantu pemenuhan hak-hak normatif Juju seperti upah dan asuransi kepada keluarga," lanjut Rieke.

Juju adalah TKI pemegang paspor bernomor AP 801136 yang beralamat di RT 02 RW 02 Blok Ahad, Desa Karangsambung, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Almarhum berangkat pada Juni 2011 dari Perusahaan Jawatan Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) DIM.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau