Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Syahrul R Sempurnajaya kepada Kompas, Selasa (22/11). Untuk timah akan diresmikan tanggal 15 Desember mendatang di Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI). ”Perdagangan di bursa akan dimulai tanggal 15 Januari tahun depan,” katanya.
Dia mengatakan, masuknya timah ke bursa akan diikuti dengan penetapan referensi harga. Langkah tersebut diharapkan bisa menjaga stabilitas harga timah yang selama ini banyak dikendalikan oleh pembeli-pembeli asing. Sebelumnya, harga timah Indonesia mengikuti harga referensi di London Metal Exchange dan bursa lainnya di luar negeri.
”Karena harga acuannya ditentukan oleh bursa-bursa di luar negeri, harga timah sering kali terombang-ambing. Jika sudah masuk ke BKDI, hal itu bisa diminimalisasi. Para pengusaha timah akan menghitung harga referensi minimal berdasarkan biaya produksi dan nilai keuntungan yang akan diambil,” paparnya.
Indonesia memiliki dua bursa berjangka, yaitu BKDI dan PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Beberapa komoditas yang diperdagangkan di bursa berjangka saat ini adalah minyak sawit mentah (CPO), olein, dan emas.
”Ke depan, komoditas yang masuk ke bursa akan terus diperluas sehingga bursa berjangka makin kompetitif,” ujarnya.
Perdagangan komoditas primer di bursa berjangka selama dua tahun ini terus meningkat. Tahun 2009, volume transaksi baru mencapai 17.000 lot, namun pada tahun 2010 meningkat menjadi 233.000 lot atau naik 1.270 persen. Periode Januari-Oktober tahun ini transaksinya tercatat 550.000 lot atau naik 124,4 persen.
Perdagangan berjangka komoditas diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2011. Undang-undang tersebut merupakan perubahan atas UU No 32/ 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi. Salah satu poin yang masuk dalam perubahan undang-undang tersebut adalah cakupan komoditas yang semakin diperluas. Bursa berjangka tidak hanya mencakup komoditas primer saja.
Secara terpisah, Direktur Utama BBJ Made Soekarwo mengatakan, saat ini ada tiga produk komoditas syariah yang diperdagangkan di BBJ, yaitu kopi, kakao, dan kacang mete. Sistem perdagangan komoditas syariah juga telah dalam jaringan (on line) sehingga para pelaku pasar dapat berinteraksi langsung.
Dari Pangkal Pinang, Bangka Belitung, dilaporkan, importir timah di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan mempertimbangkan pemasok selain Indonesia. Sikap itu menyusul moratorium ekspor oleh Bangka Belitung yang memasok hingga 27 persen kebutuhan dunia, sementara cadangan milik pembeli semakin menipis.
Perwakilan Tokyo Kinsho, Yasuo Saito, dan Alpha Metal dari Taiwan, Feng Cheng Su, menyatakan, stok mereka hanya cukup untuk 30 hari. Selama ini mereka mendapat balok timah berkadar 99,99 persen dari PT Refined Bangka Tin.
”Kalau tidak segera ada pasokan, kami bisa kerepotan,” ujar Yasuo.
Hal senada disampaikan oleh perwakilan TCC Korea Selatan, Park Man Kyu. Sejak moratorium sepihak oleh 28 perusahaan peleburan timah di Bangka Belitung, mereka tidak mendapat pasokan sama sekali. Mereka tidak bisa mengganti pemasok karena timah yang diimpor berspesifikasi khusus.