JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat ekonomi Faisal Basri mengemukakan, inovasi produk bank syariah mengalami kemunduran. Ini ditandai dengan penjualan emas oleh bank syariah.
Hal ini dikemukakan Faisal dalam konferensi pers "Indonesia Economic Outlook 2012 ," oleh PermataBank, di Jakarta, Selasa ( 22/11/2011 ). "Suku bunga turun keunggulan buat syariah. Bagi hasilnya relatif akan lebih baik dari suku bunga-suku bunga yang cenderung turun itu. Sayangnya, tidak diiringi oleh inovasi di dalam produk. Justru terjadi kemunduran di bank syariah dengan jualan emas," ucap Faisal.
Menurut dia, emas itu tidak beredar atau mengalir di dalam sistem ekonomi. Hasilnya, rasio kredit terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) nasional tidak naik. "Credit to GDP ratio kita kan terendah di dunia (yakni) 23 persen," tambah dia.
Jika banyak uang masuk dalam bentuk emas batangan, maka hal itu merupakan kondisi yang berbahaya bagi ekonomi. Ini karena keuntungan hanya dinikmati oleh segelintir orang, seperti pemilik emas. "Tapi ekonomi rugi," tegas Faisal.
Apabila bank syariah mau maju, maka ia menyarankan bank harus keluar dari paradigma tersebut. Apalagi, sebut dia, bank syariah itu bukan pegadaian. "Ekonomi syariah kan antitesa dari perbankan konvensional. Harusnya beda dengan yang dilakukan oleh perbankan konvensional," sebut dia.
Secara keseluruhan, Faisal memperkirakan bank syariah untuk berpeluang besar untuk tumbuh tahun depan. "Oleh karena itu penetrasinya juga kemungkinan akan lebih besar di 2012 ," kata dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang