KASONGAN, KOMPAS.com - Harga rotan mentah di Kalimantan Tengah yang sempat anjlok, kembali naik dua pekan ini. Kenaikan itu disambut gembira para pemetik dan pengumpul rotan.
Rahman Madan (36), pengumpul rotan di Kelurahan Kasongan Lama, Katingan Hilir, Kabupaten Katingan, Kalteng, Rabu (23/11/2011), mengatakan, saat ini, rotan mentah dibeli dari petani seharga Rp 180.000 per kuintal. Harga itu naik sejak pekan pertama November 2011.
"Pada saat sedang anjlok, harga hanya sebesar Rp 70.000 per kuintal. Waktu itu rencana penghentian ekspor rotan sedang menghangat," ujarnya.
Meskipun harga sudah meningkat, Rahman berharap rencana pemerintah untuk menutup kera ekspor rotan bisa dibatalkan.
"Kalau ekspor ditutup, pemetik dan pengumpul rotan yang susah. Harga bisa anjlok lagi. Rotan mau dijual ke mana," kata Rahman.
Sementara hingga saat ini antisipasi konkret dari pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Katingan belum ada.
Menurut Ketua Perhimpunan Masyarakat Petani, Pekerja, dan Pengumpul Rotan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Dahlan Ismail , harga rotan mentah belum pernah setinggi saat ini. Harga sebesar Rp 3.500 per kilogram (kg) itu merambat naik sejak awal November 2011.
Waktu sedang anjlok karena rencana penghentian ekspor, harga rotan hanya Rp 800 per kg. Lalu, unjuk rasa dilakukan dan harga kembali naik. Unjuk rasa pemetik, buruh, dan pengumpul rotan dilakukan dua kali yakni di Sampit (Kotim) dan Palangkaraya masing-masing pada 1 November dan 3 November 2011.
Dahlan menyebutkan, sebelum rencana penghentian ekspor mengemuka, harga rotan sekitar Rp 2.500 per kg. Terakhir, harga masih sebesar itu pada Oktober 2011.
Meskipun harga saat ini sangat baik, Dahlan mengaku khawatir. Ia menduga kenaikan disebabkan industri di luar negeri yang menghasilkan produk jadi, tengah membeli rotan dalam jumlah besar. Langkah itu dilakukan untuk menimbun bahan baku sebelum ekspor benar-benar dihentikan.
"Industri asing berupaya menyimpan rotan kering sebanyak-banyak untuk stok. Kalau ekspor ditutup, harga dikhawatirkan kembali anjlok," kata Dahlan.
Karena itu, ia meminta rencana penghentian ekspor rotan dihentikan. Jika tidak, masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari rotan akan kembali berunjuk rasa.
Hingga akhir November 2011, belum ada unjuk rasa karena mereka masih terus memantau perkembangan situasi. Akan tetapi, kemungkinan aksi terus dibahas, tuturnya. Dahlan menambahkan, antisipasi dari pemerintah pusat atau Pemkab Kotim juga belum terlihat.
Menurut Mislodi Sahinin (45), pemetik rotan di Desa Jeramas, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotim, Kalteng, harga rotan mentah saat ini sekitar 300.000 per kuintal. Ia bersyukur, belum pernah harga setinggi itu. Padahal, waktu sedang jatuh, harga hanya Rp 100.000 per kuintal.
Harga rotan sempat anjlok sekitar tiga pekan lalu. Sebelum anjlok, harga rotan sebesar Rp 250.000 per kuintal. Meskipun menyambut gembira karena menikmati harga rotan, Mislodi tak mengetahui pasti penyebab kenaikan itu. Ia hanya ingin harga rotan yang tinggi bisa terus bertahan.
"Saya pemetik yang tahunya mencari rotan. Kalau bisa, pemerintah memberikan dukungan. Hingga saat ini, belum ada program untuk rotan," ujar Mislodi.
Sementara, komoditas lain seperti karet dan kelapa sawit dibantu dengan penyaluran bibit, pupuk, dan obat.
"Petugas dari Pemkab Kotim juga belum pernah berkunjung ke desa saya untuk meninjau atau memberikan penyuluhan," tambah Mislodi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang