Pasar surat utang

Pemilik Obligasi Sedang Marah

Kompas.com - 24/11/2011, 19:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemilik dan investor di pasar surat utang Eropa sedang marah-marah kepada pemerintahan di kawasan itu, yang tidak menjaga stabilitas pasar obligasinya.

Pemerintah di Uni Eropa gagal menahan laju kenaikan biaya utang yang tergambarkan pada imbal hasil (yield), sehingga harga obligasi yang mereka pegang terus turun.

"Bisa dikatakan, krisis yang terjadi saat ini disebabkan pelaku pasar obligasi sedang marah. Itu yang membuat imbal hasil obligasi di Eropa bisa naik dua kali lipat," ujar Direktur Pelaksana dan Ekonom Senior Bank Standard Chartered, Fauzi Ichsan, di Jakarta, Kamis (24/11/2011), saat memberikan paparan tentang Indonesia di 2011, Di Tengah Ekonomi yang Rapuh.

Sebagai gambaran, hingga 24 November 2011, imbal hasil obligasi pemerintah Yunani yang jatuh tempo 10 tahun berada di level 26,01, lebih tinggi 0,14 persen dibandingkan dengan sehari sebelumnya.

Kenaikan imbal hasil juga dialami obligasi pemerintah Inggris yang ada di level 2,18 persen atau naik 0,04 persen. Begitu pula obligasi Italia yang naik 0,01 persen menjadi 6,95 persen.

"Saat ini, pelaku pasar obligasi sedang panik. Ketika panik, mereka akan memborong aset dalam dollar AS dan emas," ujar Fauzi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau