JAKARTA, KOMPAS.com - Pemilik dan investor di pasar surat utang Eropa sedang marah-marah kepada pemerintahan di kawasan itu, yang tidak menjaga stabilitas pasar obligasinya.
Pemerintah di Uni Eropa gagal menahan laju kenaikan biaya utang yang tergambarkan pada imbal hasil (yield), sehingga harga obligasi yang mereka pegang terus turun.
"Bisa dikatakan, krisis yang terjadi saat ini disebabkan pelaku pasar obligasi sedang marah. Itu yang membuat imbal hasil obligasi di Eropa bisa naik dua kali lipat," ujar Direktur Pelaksana dan Ekonom Senior Bank Standard Chartered, Fauzi Ichsan, di Jakarta, Kamis (24/11/2011), saat memberikan paparan tentang Indonesia di 2011, Di Tengah Ekonomi yang Rapuh.
Sebagai gambaran, hingga 24 November 2011, imbal hasil obligasi pemerintah Yunani yang jatuh tempo 10 tahun berada di level 26,01, lebih tinggi 0,14 persen dibandingkan dengan sehari sebelumnya.
Kenaikan imbal hasil juga dialami obligasi pemerintah Inggris yang ada di level 2,18 persen atau naik 0,04 persen. Begitu pula obligasi Italia yang naik 0,01 persen menjadi 6,95 persen.
"Saat ini, pelaku pasar obligasi sedang panik. Ketika panik, mereka akan memborong aset dalam dollar AS dan emas," ujar Fauzi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang