Mitigasi bencana

Batu Candi Lumbung Magelang Terancam Hanyut

Kompas.com - 25/11/2011, 02:50 WIB

MAGELANG, KOMPAS - Sekitar 200 potongan batu Candi Lumbung yang berada di tepi Kali Apu, Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terancam hanyut oleh gerusan aliran sungai. Batuan candi tersebut tidak terangkut ke tempat aman karena jalur pengangkutan batu ke Dusun Tlatar, Kecamatan Sawangan, tertutup lahar dingin, Minggu.

Wagiyo, Koordinator Petugas Lapangan Relokasi Candi Lumbung, Kamis (24/11), mengatakan, batu-batu yang termasuk benda cagar budaya tersebut tidak sempat dipindahkan karena sungai tidak bisa lagi dilalui truk pengangkut. ”Namun, batu-batu candi sudah kami letakkan di tempat yang lebih aman, tidak persis di tepi tebing,” katanya.

Relokasi Candi Lumbung dari tepi Kali Apu yang berhulu di Gunung Merapi telah dilakukan sejak awal September. Batuan peninggalan sekitar 864 Masehi pada zaman Kerajaan Mataram itu akan direlokasi ke Dusun Tlatar, Kecamatan Sawangan, 500 meter dari posisi saat ini. Menurut Wagiyo, batu-batu yang tidak terangkut ukurannya cukup besar, berasal dari dua lapisan terbawah candi dengan kedalaman tanah sekitar 1,5 meter.

Sementara itu, Kabupaten Madiun selama tiga hari berturut-turut dilanda bencana angin puting beliung. Puluhan pohon roboh dan genteng rumah warga berhamburan serta memicu longsor. Pemkab Madiun saat ini menetapkan status Siaga bencana. Rabu siang, sebuah pohon di tepi jalan raya Surabaya-Madiun, tepatnya di Desa Nglames, Kecamatan Madiun, tumbang. Batang pohon menutup separuh badan jalan dan menimbulkan kemacetan.

Di Surabaya, Sekretariat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim meminta kepada seluruh pemerintah kabupaten dan kota untuk mengaktifkan posko pemantau bencana di daerah masing-masing. Kepala BPBD Jatim Siswanto meminta seluruh daerah sudah diberi peta daerah rawan banjir dan tanah longsor sehingga jika ada bencana, bisa segera ditangani.

Di Yogyakarta, korban erupsi Merapi di Dusun Pelemsari, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, memutuskan membeli lahan relokasi secara swadaya. Sebanyak 81 keluarga dusun itu pindah tempat tinggal ke Dusun Karangkendal, Desa Umbulharjo, di luar kawasan rawan bencana.

(NIK/ETA/GRE/ABK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau