MAGELANG, KOMPAS -
Wagiyo, Koordinator Petugas Lapangan Relokasi Candi Lumbung, Kamis (24/11), mengatakan, batu-batu yang termasuk benda cagar budaya tersebut tidak sempat dipindahkan karena sungai tidak bisa lagi dilalui truk pengangkut. ”Namun, batu-batu candi sudah kami letakkan di tempat yang lebih aman, tidak persis di tepi tebing,” katanya.
Relokasi Candi Lumbung dari tepi Kali Apu yang berhulu di Gunung Merapi telah dilakukan sejak awal September. Batuan peninggalan sekitar 864 Masehi pada zaman Kerajaan Mataram itu akan direlokasi ke Dusun Tlatar, Kecamatan Sawangan, 500 meter dari posisi saat ini. Menurut Wagiyo, batu-batu yang tidak terangkut ukurannya cukup besar, berasal dari dua lapisan terbawah candi dengan kedalaman tanah sekitar 1,5 meter.
Sementara itu, Kabupaten Madiun selama tiga hari berturut-turut dilanda bencana angin puting beliung. Puluhan pohon roboh dan genteng rumah warga berhamburan serta memicu longsor. Pemkab Madiun saat ini menetapkan status Siaga bencana. Rabu siang, sebuah pohon di tepi jalan raya Surabaya-Madiun, tepatnya di Desa Nglames, Kecamatan Madiun, tumbang. Batang pohon menutup separuh badan jalan dan menimbulkan kemacetan.
Di Surabaya, Sekretariat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim meminta kepada seluruh pemerintah kabupaten dan kota untuk mengaktifkan posko pemantau bencana di daerah masing-masing. Kepala BPBD Jatim Siswanto meminta seluruh daerah sudah diberi peta daerah rawan banjir dan tanah longsor sehingga jika ada bencana, bisa segera ditangani.
Di Yogyakarta, korban erupsi Merapi di Dusun Pelemsari, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, memutuskan membeli lahan relokasi secara swadaya. Sebanyak 81 keluarga dusun itu pindah tempat tinggal ke Dusun Karangkendal, Desa Umbulharjo, di luar kawasan rawan bencana.