Sekolah terpencil

Pertama Kali, Peringatan Hari Guru di Silikuan Hulu

Kompas.com - 25/11/2011, 11:16 WIB

PELALAWAN, KOMPAS.com - Peringatan Hari Guru yang jatuh pada tanggal 25 November 2011 diperingati secara sederhana di pedalaman Riau tepatnya di tengah perkebunan sawit Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Jumat (25/11/2011) pagi. Hanya ada sebuah panggung kesenian dan ucapan selamat kepada para guru.

Meski demikian, peringatan ini terbilang istimewa di mata guru-guru SDN 010 Silikuan Hulu. Pasalnya, belum pernah ada perayaan hari guru sebelumnya sejak sekolah ini didirikan pada tahun 1991. Perayaan itu juga menghadirkan guru dan murid dari sekolah tetangga seperti SDN 012 Silukuan Hulu, SD Permata Soga, dan MIN 15 Lubuk Kembang Sari.

Seorang guru SDN 010 Silikuan Hulu, Rita (46), mengungkapkan, perayaan itu tak biasanya terjadi.

"Kalau Hari Guru yah biasa saja. Enggak ada perayaan di sekolah ini," ujarnya, Jumat (25/11/2011), di Ukui, Riau.

Rita mengatakan, selama ini mereka sudah cukup bersyukur jika melihat para peserta didik mampu menamatkan sekolahnya.

"Mereka lulus 100 persen saja kami sudah bersyukur," kata Rita.

Rita mengaku, kebahagiaannya semakin berlipat ganda kala bertemu dengan mantan anak didiknya yang telah menjejak kesuksesan.

"Saya sering ditegur (disapa) sama siswa-siswa saya sekarang yang sudah besar. Mereka ingat saya saja saya senang," katanya.

Lain lagi dengan Suharni (46). Wali kelas I SDN 010 Silikuan Hulu, mengaku terharu dengan adanya perayaan tersebut.

"Saya terharu karena selama saya di sini belum pernah ada perayaan apa pun dari tahun 1991," akunya.

Suharni mengatakan, pada perayaan Hari Guru biasanya seluruh guru di Kecamatan Ukui berkumpul di kantor camat untuk melakukan upacara bendera. Setelah itu, ada pertandingan olahraga guru-guru antar sekolah. Tidak ada penyematan tanda jasa atau penghargaan guru-guru berprestasi dalam acara perayaan guru tiap tahunnya di Kecamatan Ukui itu.

Pada Hari Guru di SDN 10 Silikuan Hulu, salah seorang siswi dari SD Permata Soga, Anugrah Adisti (10) membuat para guru tertawa dan berdecak kagum saat Adisti membacakan puisi "Terima Kasih Guru".

Siswi bertubuh mungil ini dengan lantang membacakan salah satu bait puisinya.

"Saat kau sedang baik, sungguh kau laksana embun di siang hari. Tetapi kala engkau sedang marah, aku jadi takut," ucapnya.

Sontak, kalimat kedua itu membuat para guru terkekeh. Saat ditanyakan apa makna guru bagi Adisti, siswi kelas IV itu dengan polos mengatakan, "Guru itu laksana bidadari," kata Adisti.

Ucapan itu memang tak bisa ditukar materi. Namun, ucapan itu memiliki makna dalam bagi para bapak ibu guru yang sudah puluhan tahun mengajar di pedalaman hutan Riau ini.

Guru-guru yang ada di kecamatan Ukui itu memang merupakan penduduk transmigran dari Pulau Jawa. Mereka lah yang merintis pendidikan di lokasi-lokasi transmigrasi di Ukui. Meski serba terbatas dan harus menempuh medan yang berliku dan beraspalkan tanah, rupanya mereka tak menyerah.

Komimah, guru MIN 05 Lubuk Kembang Sari, mengatakan, akan terus mengabdikan hidupnya sebagai guru.

"Insya Allah sampai akhir hidup saya, saya akan terus jadi guru. Tidak ada penyesalan menjadi guru," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau