Aktivis Mesir Serukan Demo Besar Jumat Ini

Kompas.com - 25/11/2011, 14:31 WIB

KAIRO, KOMPAS.com -  Para aktivis Mesir menyerukan protes massal baru di Kairo, Jumat (25/11/2011), ini guna menuntut pengakhiran segera kekuasaan militer. Pada saat yang sama, militer bersumpah untuk mencegah kerusuhan yang bakal mengganggu pemilihan anggota parlemen pada Senin depan.

Saluran-saluran televisi swasta melaporkan, para pemimpin sementara Mesir telah menunjuk mantan perdana menteri Kamal al-Ganzuri sebagai perdana menteri baru negara itu, di tengah ketidakpastian politik yang terus berlanjut. Laporan tersebut tidak segera dikonfirmasi secara resmi. Namun surat kabar milik pemerintah, Al-Ahram, mengatakan dalam situsnya, Ganzuri telah menyetujui untuk memimpin sebuah pemerintah keselamatan nasional. Ganzuri seorang ekonom yang menjabat sebagai perdana menteri Mesir pada tahun 1996 - 1999 di bawah rejim Presiden Hosni Mubarak yang sudah ditumbangkan.

Langkah itu, jika benar demikian, akan menandai upaya terbaru Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (SCAF) setelah beberapa hari terjadi bentrokan mematikan antara pasukan keamanan dan demonstran yang pecah sejak Sabtu lalu. Kekerasan terbaru itu, yang menyebabkan setidaknya 41 demonstran tewas -36 diantaranya di Kairo- dan lebih dari 2.000 orang cedera, telah menyebabkan pengunduran diri kabinet Perdana Menteri Essam Sharaf, pada Selasa lalu.

Seruan untuk protes baru di Tahrir Square itu muncul meski ada permintaan maaf penguasa militer pada Kamis terkait penembakan mematikan yang dilakukan polisi. Kekerasan selama beberapa hari itu telah menimbungkan awan mendung menjelang pemilihan parlemen pada hari Senin, yang mendorong SCAF berjanji untuk menjaga keamanan selama pemilu pertama sejak pemberontakan rakyat yang menggulingkan Mubarak pada Februari.

Ada ketenangan yang tidak nyaman pada Kamis kemarin di antara massa yang berkumpul di Tahrir Square, pusat protes rakyat Mesir, setelah gencatan senjata dirundingkan oleh para ulama Muslim. Para ulama itu mengatakan dalam sebuah pernyataan yang diposting di Facebook bahwa sebuah kesepakatan telah dicapai antara pasukan keamanan dan pemrotes untuk menghentikan konfrontasi. Namun dewan militer mengesampingkan pilihan untuk mundur.

"Rakyat telah memercayakan kepada kami sebuah misi dan jika kami meninggalkannya hal itu sekarang, itu akan menjadi pengkhianatan terhadap rakyat," kata seorang anggota  Senior SCAF, Jenderal Mukthar al-Mulla, kepada wartawan. "Angkatan bersenjata tidak ingin tetap berkuasa. Kami ingin menempatkan keinginan rakyat di atas segalanya," tambahnya.

Seorang anggota senior SCAF yang lain, Mayor Jenderal Mamduh Shahin, juga berkeras mereka tidak akan mengubah arah. "Kami tidak akan menunda pemilu. Itu merupakan kata akhir. Pemilu akan dilakukan sesuai dengan tanggal aslinya." Mulla mengatakan, SCAF, angkatan bersenjata, dan kementerian dalam negeri akan bekerja sama untuk menjamin keamanan pemilihan.

Ada bentrokan baru hari Kamis di kota Mediterania, Alexandria, antara pasukan keamanan dan pemrotes, lapor kantor berita negara, MENA. Dua orang tewas di sana sejak Sabtu. Ada juga kerusuhan di wilayah Delta. Namun sejumlah aktivis menyerukan, agar protes-protes difokuskan di Kairo. Namun sejumlah orang berpendapat, demonstran harus berhenti memprovokasi polisi yang menjaga gedung kementerian dalam negeri di sana.

Di Tahrir Square, beberapa demonstran tetap tegas dalam tuntutan mereka yaitu militer harus segera pergi.
Tapi banyak warga Mesir khawatir tentang dampak dari kebuntuan relasi antara demonstran dan tentara. "Jika militer mundur, akan ada kekacauan. Maksud saya, sekarang saja ada kekacauan. Jadi bayangkan apa yang akan terjadi jika militer turun," kata Essam al-Arabi, pejual tas kulit di dekat Lapangan Tahrir.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau