Tujuh Siswa SD Keracunan Jajanan Sekolahan

Kompas.com - 25/11/2011, 17:16 WIB

PAGARALAM, KOMPAS.com - Tujuh anak siswa sekolah dasar (SD) di Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, Jumat, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengkonsumsi jajanan di sekolah.

Di antara korban, yaitu Erpani, Agung, Diah, Aris, dan Eldi, siswa SD Muhammadyah di Dusun Kauman, Kelurahan Besemah Serasan, Kecamatan Pagaralam Selatan.

"Kondisi ketujuh anak tersebut setelah satu jam mengkonsumsi makanan yang dibeli di sekolah itu mulai mengalami mual, muntah, pusing dan muka pucat, sehingga dilarikan ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Besemah," kata salah seorang dari orang tua korban, Syamsul, Jumat (25/11/2011).

Anak yang diduga mengalami keracunan itu, tiga orang dirawat di RSD Besemah, dan satu di Klinik Wita Medika, serta tiga orang lagi hanya dilakukan rawat jalan.

"Mereka diduga keracunan setelah menyantap makanan yang banyak dijual di sekitar sekolah, sehingga membuat tubuh korban merasa lemas disertai pusing dan muntah-muntah," kata dia.

Gejala keracunan itu terjadi setelah anak-anak pulang sekolah dan beberapa jam usai mengkonsumsi makanan tersebut. Bahkan ada yang sempoyongan karena kepalanya terasa pusing disertai mual.

Tidak berapa lama, ia langsung muntah-muntah tanpa henti, kata dia lagi. Setelah itu, mereka langsung dilarikan ke RSD Besemah sebanyak tiga siswa, dan satu siswa dirawat di klinik, sedangkan tiga siswa lainnya hanya dirawat di rumah.

"Kami mengira hanya masuk angin, setelah diberitahu oleh orang tua siswa yang lain baru diketahui jika ada beberapa anak tadi mengalami keracunan setelah makan jajanan sekolah," kata dia pula.

Menurut dia, sejumlah orang tua murid juga kecewa karena pihak sekolah tidak memberitahukan kejadian itu, dan korban justru disuruh pulang sendiri ke rumah," kata dia.

Kepala SD Muhammadiyah Pagaralam, Sutrisno, membenarkan memang ada empat dari tujuh siswa sekolahnya yang sakit sempat di rawat di rumah sakit, namun bukan keracunan melainkan hanya kondisi badan tidak fit dan ditambah lagi meminum es.

"Berdasarkan pemeriksaan dari dokter, tujuh murid tersebut tidak keracunan, hanya badan saja yang tidak fit ketika minum es, sehingga terjadi muntah-muntah dan harus dilarikan ke rumah sakit di sini," ujar dia.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pagaralam, dr Rasydi Amri, mengatakan saat ini pihaknya sudah menerjukan petugas untuk memeriksa lokasi dan siswa yang diduga mengalami keracunan tersebut, termasuk mengambil sampel makanan yang dikonsumsi.

"Kita sudah mengambil sampel minuman yang diduga menjadi penyebab keracunan, sisa makanan dikonsumsi serta muntah korban," kata dia lagi.

Sampel makanan dan kotoran itu, kata dia, harus melalui pemeriksaan di laboratorium, untuk menentukan apa penyebab mereka mengalami sakit.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau